Tampilkan postingan dengan label Tulisan Lepas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan Lepas. Tampilkan semua postingan

Minggu, 08 April 2012

MODERN ATAU JAHILIAH

Modern artinya mutakhir, atau akhir jaman. Kalau kita membicarakan modernisasi, artinya kita tengah membahas konteks kultural gaya hidup masa kini. Coba kita tanya salah satu remaja yang hidup diperkotaan. Sudah cukup modernkah anda? Orang itu akan segera berdiri, memperlihatkan penampilannya dengan congkak. “Tidak lihatkah celana jeans bladus yang saya pakai? Kaca mata hitam, Rambut saya yang merah royo-royo persis kaya kembang jambu bol. Tidak cukupkah penampilan sekeren ini untuk disebut modern?”

Begitulah asumsi para remaja mengejawantahkan arti modern secara dangkal. Jangan katakan diri anda modern, kalau anda belum berani merubah penampilan anda menjadi bule celup. Jangan katakan diri anda modern, kalau anda belum nyicipi makanan direstoran panggang iga, atau setidaknya godoh ayam ala Amerika. Jangan katakan diri anda modern, kalau anda belum pernah mabuk didiskotik sampai pagi. Jangan katakan diri anda modern, kalau tidak bisa rengeng-rengeng lagu rock, metal, blus, raff, dan suara serak Bon Jovi. Pokoknya kalau bicara soal modern, kiblatnya kebarat.

Dikota-kota besar, moralitas dunia modern demikian mencengangkan. Mendirikan bulu roma sekaligus mengagumkan. Suami istri sibuk setiap hari, sehingga masing-masing pihak tak memungkinkan mengontrol suaminya atau istrinya, apakah tidak membolos kerja barang sejam atau dua jam untuk pergi bersama pacarnya kemotel yang bertebaran dimana-mana. Itulah fenomena kota besar. Tidak ada kontrol sosial. Intuisi modern telah menyiapkan peluang yang canggih untuk setiap perselingkuhan.
Para orang tua mencarikan tempat kost bagi putra putrinya tercinta yang menuntut ilmu dikota lain. Menyiapkan dana pendidikan yang selayaknya, serta mencukupi kebutuhan pinansial sehari-hari. Tidakkah kemudian anak-anak manis itu mengangkangi orang tuanya, dengan memasukan pacar-pacarnya kedalam kamar dan melakukan senggama.
Ditempat-tempat pelacuran tidak sedikit para suami yang mengantar istrinya sore hari untuk berjualan daging mentah dan menjemputnya setelah dini hari.

Didunia hiburan ada banyak bintang film atau model yang menganut faham liberal. Mereka adalah wanita-wanita cantik yang berani menelanjangi diri didepan kamera. Memamerkan susu, paha dan udelnya. Bintang Film liberal, adalah wanita cantik yang bersedia berada dibalik selimut tanpa busana dengan bintang film laki-laki. Bercipokan, memamerkan syahwat, ironisnya lagi suaminya menonton dibelakang kamera. Dan sang artis berkata, “ Suami saya sangat memahami karier saya, dia modern.”

Ada ratusan bahkan ribuan gadis-gadis belia menjajakan kehormatannya, hanya untuk memenuhi kebutuhan pribadinya dan menganggap itu karier. Ada juga yang menyediakan tubuhnya untuk ditiduri pada penguasa asal dirinya diorbitkan. Didunia bisnis wanita menjadi alat negosiasi yang paling jitu. Itulah gambaran realitas dunia modern diperkotaan. Tak menutup kemungkinan sekian tahun kedepan, lewat derasnya jalur transformasi yang canggih, kebudayaan modern itu akan mengangkangi hingga kepelosok-pelosok pedesaan.

Tapi betulkah itu yang dinamakan modernisasi? Jangan-jangan kita salah. Kita telah melakukan kekeliruan dan kekhilapan dalam memanisfestasikan hakikat modern yang sesungguhnya. Bukankah ketika nabi Muhammad SAW diutus sebagai nabi, Allah berfirman. “Inilah nabi akhir jaman. Nabi yang paling sempurna. Tidak akan ada nabi lagi setelah Muhammad. Dan islam adalah agama yang paling Modern. Agama yang akan tetap relevan diberbagai jaman.” Ibarat kamera, Islam adalah kamera yang paling mutakhir. Kamera autofokus. Tidak perlu mencari-cari posisi, tinggal keker, puter dan klik. Jadi dalam islam,semua syariat beribadah dan mengatur hidup sudah tertuang dalam Al quran dan hadist.

Jadi arti modernisasi itu pada hakikatnya ialah manusia yang hidup dibatasi aturan. Dan aturan-aturan itu diciptakan Allah bukan untuk dirinya. Tapi untuk manusia itu sendiri. Allah tidak akan merasa rugi kalau kita tidak shalat. Allah tidak akan miskin kalau kita tidak sidekah. Allah tidak akan terangsang walau kita memajang fhoto bom sek yang bugil. Allah tidak akan iri, kalau kamu membawa pacar kamu kemotel seminggu sekali. Bahkan Allah sama sekali tidak bergeming walau seluruh umat manusia dimuka bumi ini melakukan bunuh diri kultural secara masal. Karena Allah sama sekali tak berkepentingan didalamnya.

Allah membuat aturan-aturan itu, supaya manusia mampu melakukan keharmonisan kultur dan alam. Mampu memelihara ekosistim. Untuk siapa? Untuk kesejahteraan manusia itu sendiri. Tapi begitu banyak orang tidak percaya. Mereka lebih suka memilih gaya hidup hedonisme, Amerikan minded. Karena mereka yakin itulah gaya hidup modern.Padahal kalau kita mau sedikit saja membuka mata, siapa yang paling civilition? Yang paling beradab dan berkeadaban? Siapakah yang paling berbudaya? Bangsa Amerika dan Erofa justru bangsa yang paling primitif sedunia. Bangsa yang paling biadab. Seks bebas, Aids, sodomi, homoseksual, lesbianisme, bapak memerkosa anaknya, Anak laki-laki memerkosa adiknya sekaligus ibunya, drug party, kriminalitas, Penganiayaan terhadap anak oleh ibunya sendiri, Diskriminasi, bahkan rasialisme masih bercokol kukuh. Karena hingga kini masih banyak kaum kulit putih yang anti kulit berwarna. Jadi pantaskah kita mengaku modern dengan berkiblat kesana? Jangan-jangan langkah kita bukannya maju, tapi malah mundur jauh kebelakang. Kejaman sebelum nabi Muhammad SAW diturunkan. Jaman kebodohan, Jaman para orang tua mengubur hidup-hidup bayi perempuannya. Yaitu jaman jahiliah. {PUSKA TANJUNG}



.

READ MORE - MODERN ATAU JAHILIAH

Jumat, 06 April 2012

RAYAP PEMAKAN KAKI KURSI

Rayap adalah inseks. Binatang kecil yang jumlahnya tak terhitung. Gerombolan kecil yang tampak tak berarti itu, kalau dibiarkan akan menjadi mesin penghancur, bisa jadi menumbangkan sebuah rumah. Sekali koloni itu menemukan peluang, maka jumlahnya akan bertambah setiap saat. Mereka memang kecil, daya keratnya sedikit, tapi karena jumlahnya cukup banyak, maka mau tidak mau harus diantisifasi.. Kalau tidak, kita tinggal menunggu jangka waktu untuk segera menjadi tuna wisma, tuna karya, kalau sudah begitu otomatis menjadi duafa.

Kita ingat kisah dibalik wafatnya nabi Sulaiman AS. Beliau adalah nabi yang paling intelektual diantara para nabi lainnya selain nabi Muhammad SAW. Nabi Sulaiman adalah ilmuwan mumpuni. Dia bisa membaca getaran daun, desauan angin, Aliran air, bahasa binatang dari yang terrenik hingga yang terbesar. Dia juga faham obrolah para jin dan makhluk-makhluk klenik lainnya. Dikisahkan pula persahabatan nabi Sulaiman dengan burung bulbul pengantar surat ke ratu Balqis penguasa negri Salva. Juga persahabatannya dengan para Jin sakti yang bisa memindahkan pesona kemegahan istana ratu Balqis keistananya. Tapi ketika dia wafat terduduk diatas singgasananya, tak ada satupun dari para sahabatnya, bahkan jin-jin sakti itu yang menyadari kalau nabi Sulaiman sesungguhnya telah mangkat. Mereka semua mengira bahwa nabi Sulaiman tengah berzikir diatas singgasananya. Yang pertama menyadari kalau nabi Sulaiman telah wafat adalah rayap. Sang koloni kelaparan itu, secara diam-diam kenyantap tongkat dan kursi singgasana yang tengah diduduki nabi Sulaiman hingga tumbang.

Kisah rayap pemakan kaki kursi itu, merupakan salah satu bahasa metafora bahwa makhluk-makhluk kecil itu tak bisa dianggap remeh. Mereka bisa jadi penentu sejarah. Dalam analisis sosial, budaya mengerat sudah sistimatik dan mengakar. Mereka ada dalam berbagai intitusi. Memang untuk ukuran predikat rayap cara mengeratnya tidak serta merta mengguncangkan, tidak seperti kucing yang menyolong ikan dari atas meja, atau tikus yang melubangi lemari makan. Cara kerja rayap tidak sertifikan, ia menelusup kedalam rongga secara perlahan dan kontinyu, tidak terlihat. Ketika kita sadar pilar sanggaan hidup sudah keropos.
Begitu menggelisahkannya budaya hidup modern yang serba hedonisme. Ideologi industrilisasi pencipta sarana revolusi kesejahteraan yang menjajakan impian matrialisasi, dan tidak serta merta dibarengi kemapanan moralitas dan mental spiritual, sehingga membuat semua individual menjadi konsumtif. Mereka terjebak dalam situasi untuk bagaimana caranya memuaskan rasa lapar. Sementara hukum alam mengkodratkan manusia untuk kembali lapar setelah sekian jam tidak makan.

Dilevel makro nasional kita mengenal para koruptor, barisan orang yang duduk dikursi kekuasaan yang memiliki peluang untuk mengiris roti. Orang-orang yang berkolusi dengan para pengusaha yang mengais lahan bisnis didivisi pembelanjaan kantor. Dilevel mikro ada runtutannya sendiri. Ada tikus-tikus kantor hingga rayap-rayap pengerat, semua itu merupakan paralel yang amat rumit. Ada kecemburuan sosial dari para pekerja kecil pada atasannya yang memiliki peluang untuk bancakan, atau merupakan reaksi sinisme, karena merasa keringatnya diserap. sehingga merekapun mencari celah yang kemungkinkan bisa dikerat. Ini soal perbedaan pendapat, bisa ia bisa juga tidak.
READ MORE - RAYAP PEMAKAN KAKI KURSI

Kamis, 05 April 2012

PANDEGLANG NYANYIAN SUNYI KOTA PARA SUFI

                        “Innani thiflhun shoghirun..
                        Li abi hubbi wa ummi
                        Fha abi yughna bi’aisi
                        Watujillul ummu ghommi.”
                         (Ust. Sulhi / Kyai A Salim)

            Itulah potongan nadhoman ( Senandung koor) yang paling kuingat kala memasuki tugu perbatasan kota Pandeglang, di setiap kali aku pulang kampung. Nadhoman itu seperti bunyi musikal penyambutan bagi diriku sendiri, yang selalu bersenandung di dalam hatiku yang terdalam disetiap kaki ini menginjak tanah kampung halaman. Terkadang aku tertawa geli sendiri mengenang masa-masa kecil yang indah dan penuh kenakalan. Nadhoman itu, nadhoman pertama yang kubawakan bersama Azizah dan beberapa temanku, ketika usiaku 5 tahun dan duduk di bangku busthanul falah, semacam TK ITnya jaman sekarang.
            Itu nadhoman pertama pada ikhtifal pertamaku. Kami, kalau tidak salah berenam, mengenakan bahnuk (Jilbab), naik ke atas panggung yang dipenuhi kertas warna-warni dan bunga-bunga di setiap sisinya. Para orang tua kami menonton di bawah sambil tersenyum diliputi kekaguman, seperti seekor induk ayam yang melihat telurnya menetas dan mendengar ciapan suara anaknya untuk yang pertama kali.
READ MORE - PANDEGLANG NYANYIAN SUNYI KOTA PARA SUFI
 

Puska Tanjung Blog © 2012 | designed by Me