Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Cerpen. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2012

CALON ISTRI

CALON ISTRI

Hampir setiap hari disaat ada waktu senggang Baron selalu menghubungi ibunya lewat telephon. Menceritakan tentang Amalia kekasihnya dengan menggebu-gebu. Tentang kebaikannya, kecantikannya, dan keindahan budi pekertinya. Saat itu Baron selalu membayangkan wajah ibunya berseri-seri. Ia sudah cukup lama menanti Baron mengakhiri masa lajangnya yang panjang.

Mulanya Baron menganggap, soal perempuan adalah point terakhir setelah karier dan membahagiakan ibu. Juga tetek bengek persiapan masa depan seperti rumah, kendaraan dan sedikit tabungan. Tapi rupanya tidak ada satu orangpun di dunia ini yang mampu mengendalikan waktu. Hari merupakan monster ganas pemakan usia. Tak terasa kini Baron sudah menjadi lajang lapukan. Hingga kemudian ibunya mulai rewel karena khawatir.“Masa tidak ada seorang gadispun yang mau melirik Baron ibu yang ganteng begini.”
Ibunya mulai menyindir setiap kali Baron pulang.
“Baron, coba agresip sedikit kenapa. Jangan acuh begitu. Ingat usiamu sudah tidak muda lagi. Ibu kepengen banget melihat kamu berkeluarga dan bahagia.”

Sejak ibunya sering mengeluhkan usia Baron yang tak lagi muda, dan memintanya untuk segera menikah, Baron seperti dipacu untuk segera mendapatkan calon istri. Padahal pacarpun ia tidak punya. Sementara rutinitas kerja tidak memberinya banyak kesempatan untuk bersosialisasi. Di samping Baron tidak memiliki bakat untuk mendekati perempuan. Sejak itu ia mulai menyadari betapa sulitnya mencari calon istri. Sama sulitnya dengan mencari lapangan pekerjaan. Waktu terus berjalan dan Baron masih saja sendirian.

“Baron coba lihat, tidak ada satu gadispun yang tersisa untukmu,” cermin di kamarnya berkata sambil tersenyum sinis. “Massa buat kamu telah lewat. Sekarang kamu tidak lagi muda, kamu sudah menjadi om-om. Mana ada gadis yang mau dipersunting bujang lapuk.”
Baron semakin panik.

Akhirnya ia terpaksa membuang semua gengsi dan rasa malu. Ia perlu mediator. Baron mulai membisiki teman-teman sekantornya supaya mau membantunya mencarikan calon istri. Teman-temannya dengan senang hati menyambut gagasan Baron. Mereka mulai mempertemukan Baron dengan beberapa gadis. Tapi sayangnya dari sekian wanita yang ditawarkan temannya, tak ada satupun yang menarik minatnya.

“Gadis seperti apa sih yang kamu cari Baron?” salah satu temannya bertanya dengan sedikit kesal.
“Kalau usia sudah tidak muda lagi, jangan memasang kriteria terlalu tinggi dong,” temannya yang lain menyinggung.

Baron jadi malu sendiri. Bagai mana mungkin dia akan menikah dan bisa bahagia dengan gadis yang sama sekali tidak menawan hatinya. Hingga kemudian diambang rasa putus asa, Baron menemukan Amelia. Gadis belia berwajah manis yang ditemukannya tanpak sengaja di pasar swalayan. Saat itu adalah hari minggu yang membosankan. Seperti biasa dia selalu terpenjara dalam kesendirian. Semua tetangganya di komplek perumahan tempatnya tinggal sudah keluar meninggalkan rumah sejak tadi pagi untuk berlibur. Yang sudah berkeluarga pergi bersama anak istrinya, dan yang masih bujangan pergi dengan pacar-pacarnya. Jadi hanya Baronlah yang tertinggal sendiri. Dia tidak memiliki seseorang yang harus diajaknya bersenang-senang. Setelah usai membersihkan rumah dan mencuci mobil, Baron iseng jalan-jalan ke pasar swalayan. Sebetulnya ia tidak berniat untuk membeli apapun. Tidak ada yang dia butuhkan. Baron hanya ingin jalan-jalan untuk mencairkan kepenatan.

Di salah satu counter, tepatnya conter batik, Baron menemukan sepasang remaja yang tengah terlibat percakapan serius. Sang gadis kelihatannya penjaga counter, Baron dapat memastikannya setelah melihat seragam yang dikenakannya. Dan yang pria, sepertinya mereka pasangan kekasih. Tanpa sengaja Baron mendengar pertengkaran mereka.

“Pokoknya setelah ini, kita tidak perlu ketemu lagi. Kita putus,” pekik si pria diliputi kemarahan.
“Terserah apapun yang elo mau. Gue ngga perduli..”
Dan pemuda itupun berlalu dengan langkah lebar. Sang gadis tidak menghiraukannya. Ia mengambil buku bon dan mengorat-ngoret sesuatu di permukaannya.
“Mba kemeja batik ini berapa harganya?” Baron mendekati gadis itu sambil menenteng sebuah kemeja di tangannya. Sesaat gadis itu mengusap pipinya. Baron melihat permukaan buku yang dipegangnya basah. Dia menangis.
“Oh maaf,” gadis itu meraih kemeja di tangan Baron dan membantunya mencarikan bandrol harga di balik leher kemeja. “Ini dia, dua ratus ribu pak,” katanya seraya tersenyum basa-basi.

Seketika hati Baron tercekat. Ternyata dia gadis yang cukup cantik, katanya dalam hati. Awalnya Baron cuma iseng memilih-milih kemeja batik, tapi setelah melihat wajah sang pelayannya yang manis, akhirnya ia memutuskan untuk membelinya satu buah. Hingga kemudian dia pulang dan membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur, wajah gadis manis itu tidak pernah lepas dari benaknya. Mungkin inilah yang disebut cinta pada pandangan pertama. Pikir Baron dalam hati.

Gagasan untuk mendapatkan gadis itu kian hari kian menggebu. Ia tidak berniat menceritakan pada teman-temannya kalau ia tengah jatuh cinta. Tapi setiap pulang kerja, Baron selalu menyempatkan waktu mampir ke pasar swalayan itu dan menemui gadis yang telah merebut hatinya di counter batik. Bahkan tak terasa dia sudah menghabiskan dana cukup besar untuk membeli lima kemeja batik yang sama sekali tidak ia butuhkan. Meski demikian pada akhirnya kerja kerasnya berbuah manis. Dia berhasil berkenalan dengan Amelia dan saling bertukar nomor handphon.. Lalu pada hari selanjutnya Baron sudah bisa mengajaknya makan berdua di restoran pastfood dan mengantarkannya pulang. Tak ayal lagi hati baron berbunga-bunga.

“Cowok yang dulu bertengkar dengan kamu di counter itu pacar kamu ya Mel?” tanya Baron suatu malam ketika mengantar Amelia pulang.
“Awalnya ya. Tapi sekarang tidak lagi.”
“Kenapa putus?” kejar Baron.
“Orangnya terlalu posesif, padahal sebetulnya dialah yang suka selingkuh.”
“Sekarang pacarmu siapa?”
Amelia menatap Baron heran. “Kan kamu yang jadi pacarku sekarang mas.”
“Siapa yang bilang aku mau jadi pacar kamu Mel,” goda Baron.
Amelia mendelik. “Terus maksud kamu hubungan kita ini apa mas?”
Baron tertawa. “Aku sebetulnya tidak mau pacaran Mel. Aku ingin kamu jadi istriku.”
Amelia memukuli bahu Baron manja.

Kian hari hubungan Baron dengan Amelia kian mesra saja. Tak terpungkiri Amelia telah membuat Baron amat tergila-gila. Baron ikhlas meski telah menghabiskan banyak uang untuk membelikan berbagai hadiah mahal buat Amelia. Baginya yang terpenting bisa membuat Amelia semakin mencintainya. Dan iapun tidak pernah lupa membawa berbagai buah tangan untuk keluarga Amelia setiap kali berkunjung ke rumahnya. Tentu saja ibu Amelia dapat menerima Baron dengan tangan terbuka. Hanya tinggal beberapa langkah lagi untuk bisa menikahi Amelia segera.

Baron yakin betul, Amalialah belahan jiwanya. Calon permaisurinya yang akan menyemarakan rumah kecilnya dengan anak-anak yang lahir dari rahimnya. Disamping desakan usia, ia tidak akan menunda terlalu lama untuk mewujudkan impiannya menikahi Amalia. Dengan penuh kesadaran Baron mulai menceritakan tentang latar belakang hidupnya. Tentang masa kecilnya yang serba sulit karena ditelantarkan ayahnya. Tentang ketabahan ibunya yang telah membesarkannya dan membiayai sekolahnya seorang diri. Juga tentang ayahnya yang tidak diketahui keberadaannya hingga kini.

“Jadi kalau sudah jadi istri mas, kamu jangan takut disakiti,” kata Baron pada Amelia. “Apapun yang terjadi, mas tidak akan menelantarkan anak istri. Karena mas tahu betul seperti apa penderitaan ibu setelah ditinggalkan ayah.”
“Pernahkah terbersit dipikiran mas untuk mencari dan menemui ayah mas sekarang?” tanya Amelia.
Baron menggeleng. “Tidak. Bagi mas dia sudah mati.”
Sejak kecil Baron memang sudah bersumpah untuk tidak mencari ayahnya, sekarang ataupun nanti. Ia hanya akan mengabdikan seluruh hidupnya untuk membahagiakan ibu.. Dan ketika ia menemukan Amelia, ia selalu berbagi rasa pada ibunya dengan menceritakan seluruh perjalanan asmaranya bersama Amalia. Ia tahu, ibunya akan sangat bahagia karena sebentar lagi akan memiliki seorang menantu yang sudah cukup lama ia tunggu.
“Bawalah segera calon istrimu ke sini, ibu sudah tidak sabar ingin mengenalnya,” kata ibunya di seberang telephon.
Lalu Baron bercerita pada Amelia tentang ketidak sabaran ibunya yang ingin segera mengenal calon menantu. Dan iapun berencana mengajak Amelia untuk menemui ibunya minggu depan.
“Ibu senang sekali setelah tahu kita akan datang, dia bilang akan memasak yang enak buat calon istriku.”
“Tapi mas harus minta ijin dulu ke bapak kalau mau ngajak saya,” ujar Amelia.
“Tentu saja, mas akan segera meminta ijin sama bapak kamu. Kalau bisa sekalian melamar kamu,” kata Baron penuh semangat.
Pada hari yang ditentukan, Baron datang ke rumah Amalia untuk berbicara pada ayahnya, kalau anak gadisnya akan dibawa untuk diperkenalkan pada ibunya. Baron duduk di kursi di ruang tamu rumah Amalia yang sempit. Ibu Amalia datang, menyuguhkan sirup dingin rasa leci buat Baron.
“Silahkan minum nak Baron,” ujar ibu Amalia, lalu kemudian menghilang ke belakang.

Baron memang belum pernah bertemu dengan ayah Amelia sebelumnya. Dan kini ia merasakan telapak tangannya berkeringat karena gugup. Ia takut ayah Amelia tidak merestui hubungannya. Siapa sih orang tua yang rela menikahkan anak gadisnya dengan bujang lapuk seperti dirinya. Namun ketika laki-laki setengah baya itu muncul dan duduk di hadapannya, Baron seperti dilanda de javu. Ia amat mengenal laki-laki itu sebelumnya. Tapi di mana? Benarkah ini ayah Amelia? Seketika Baron merasakan kepalanya pening. Mereka berdua berbicara kaku, tidak cukup lama Dan tidak cukup banyak yang mereka perbincangkan. hingga kemudian Baron pamit pulang.

“Kok mas lesu, bapak tidak ngasih ijin ya?” tanya Amelia curiga begitu mengantar Baron ke depan. “Atau bapak tidak menyetujui hubungan kita?”
Baron berpaling pada Amelia yang tengah mengawasinya diliputi berbagai dugaan. “Percayalah tidak ada apa-apa kok.”
“Lalu kenapa setelah bertemu dengan bapak mas tampak kehilangan semangat?” tanya Amelia lagi. “Bapak mengatakan sesuatu yang menyakiti hati mas ya?”
“Tidak. Sama sekali tidak Amelia. Mas hanya merasa ngga enak badan.”
Tapi sebelum masuk ke dalam mobil, Baron berpaling pada Amelia dan menggenggam kedua tangannya erat. “Maafkan aku Amelia. Mungkin besok kita ngga jadi nemuin ibu, karena mas dapat tugas mendadak dari kantor.”

Padahal keesokan harinya, subuh-subuh sekali, Baron berangkat seorang diri. Ia tahu, ibunya sudah mempersiapkan banyak hal untuk menyambut calon istri putra kesayangannya. Dan ketika mendapatkan kenyataan kalau Baron hanya pulang seorang diri, ibunya sudah tidak bisa lagi menyembunyikan kekecewaan hati.
“Kamu ini bagai mana sih Baron, lihat ibu sudah masak banyak. Sudah mempersiapkan kamar yang nyaman buat Amelia. Tapi kok kamu…….”
Baron merengkuh ibunya dan menjatuhkan diri keatas pangkuannya. “Amelia adikku ibu…. Dia anak bapak….”
Baron menangis terisak-isak. Hatinya terasa ngilu. (PUSKA TANJUNG)

READ MORE - CALON ISTRI

Sabtu, 07 April 2012

POHON RANDUPUN MATI

Kian hari pohon randu itu kian meranggas. Kemarin daun-daun randu itu masih tersisa beberapa helai meski sudah mengering. Tapi kini sudah berguguran semua. Hingga hanya tertinggal rantingnya saja. “Sebentar lagi dia akan mati,” gumam Puun Jarwo seraya mengawasi pohon randu yang berdiri di depan pelataran rumah panggung kecilnya yang reot. Tatapan matanya menyipit, penuh bara dendam. Laki-laki tua itu duduk setengah jongkok di amben teoh depan rumah panggungnya. Matanya yang kelam tak henti mengawasi pohon randu yang mulai meranggas. Selinting rokok klobot dengan aroma tembakau pekak, terjepit menyala di sela jemari tuanya yang keriput. Asapnya lari terbawa angin. Berulang-ulang KI Jarwo Menghisap rokok klobotnya dalam-dalam sampai pipi keriputnya kempot. Lalu menghembuskan asap kekuningan dari lobang hidungnya, seraya tak berkedip menatap pohon randu dengan dahan-dahan gundul seperti tangan-tangan yang terentang. Kulit batangnya yang hijau mulai kecoklatan. Menurut perhitungannya, tak akan menunggu lama, pohon randu itu akan segera mati. Tak akan menunggu sampai satu bulan sejak ia menancapkan sebilah paku di pangkal batangnya.

Semua ini dia lakukan demi Keling, anjing hitam gagah kesayangannya. Keling berhak mendapatkan semua ini, katanya dalam hati. Kematiannya adalah tragedi. Baginya Keling bukan sekedar anjing penjaga yang selalu setia menemaninya ke kebun atau ke hutan. Ia lebih dari sekedar itu. Anjing itu telah ia pelihara sejak dari kurik hingga menjadi anjing jantan perkasa. Ia belahan jiwanya. Obat pelipur lara dalam kesunyian hidupnya yang panjang. Biasanya di setiap pagi, ia dan Keling selalu jongkok berdua di depan tungku menyala, menunggu jerangan air sambil menghangatkan tubuh. Lalu ia senantiasa bercerita banyak hal pada Keling seraya mengelus-ngelus bulu hitamnya hingga mengkilat. Hanya kelinglah satu-satunya tempat ia berkeluh kesah, tak perduli meski Keling tak pernah memahami apa yang ia ucapkan. Puun Jarwo banyak bercerita tentang mendiang istrinya yang meninggalkannya tanpa memberikan keturunan. Juga tentang kesepiannya yang kini hidup sebatang kara. Jika sore tiba, ia akan duduk di tepi amben teoh depan, meregangkan otot-ototnya setelah seharian bekerja di kebun. Lalu Keling menggeser-geserkan ekornya dengan manja di permukaan kulit betisnya. Tapi kini Keling sudah mati. Ki Jarwo tidak lagi punya teman. Ia tidak lagi memiliki tempat untuk berkeluh kesah. Kini ia benar-benar sendiri, dan amat kesepian.

Dua hari lamanya Keling menghilang. Ki Jarwo kalang kabut. Seperti seorang ayah yang kehilangan anaknya, ia mencari kesana kemari, menanyakannya pada setiap orang yang kebetulan berpapasan dengannya. Hingga di suatu sore yang lembab, setelah hujan mengguyur seharian, ia menemukan bangkai Keling terapung di tepi sungai dalam keadaan remuk. Saat itu Ki Jarwo merasakan empedunya naik ke tenggorokan. “Ini pasti ulah orang kota,” makinya dengan rahang bergemeletuk. seraya menaikan tubuh Keling ke pinggir sungai.

 Belakangan ini, memang dusunnya sering didatangi orang-orang dari kota. Ada yang sengaja datang hanya sekedar berkunjung sambil memotret disana-sini, lalu menanyakan banyak hal pada penduduk desa. Tapi disamping itu tidak sedikit pula orang-orang kota yang datang untuk berburu. Mereka biasanya datang secara rombongan, adakalanya hanya satu mobil atau bahkan dua sampai tiga mobil. Orang-orang kota itu menyisir kebun penduduk dan masuk ke dalam hutan dengan senjata angin terkokang di tangan. Mereka memburu babi, menembaki tupai, burung dan binatang apapun yang mereka temukan di hutan. Ki Jarwo tidak pernah menyukai orang-orang kota itu. Menurutnya kebanyakan dari mereka sangat angkuh, selalu bersikap seenaknya hingga tidak menganggap sebelah matapun pada penduduk desa. Selain itu mereka juga banyak menimbulkan kerusakan. Setengah bulan yang lalu, separuh kebun singkong Ki Jarwo luluh lantak digilas sepatu-sepatu kekar mereka. Sebelumnya pagar kebun kacangnya dicabuti sehingga segerombolan kambing tetangga masuk dan melahap daun kacangnya yang baru saja merambati teturus. Ia juga mendengar beberapa tetangganya yang mengeluhkan kelakuan urakan orang-orang kota itu, yang dengan seenaknya merusak pematang sawah, meninggalkan sisa api unggun di hutan sehingga menimbulkan kebakaran. “Untung saja keburu ketahuan. Kalau tidak, api itu akan membesar dan membakar hutan,” ucap tetangganya. “Dasar orang kota bodoh, sama sekali tidakmengerti kalau perbuatannya akan menimbulkan bahaya.” Sejauh itu Ki Jarwo masih memaafkan mereka.

 Tapi setelah Keling mati, ia tidak lagi mau bertoleransi. Sejak melihat kondisi bangkai Keling yang remuk, ia yakin, kalau Keling mati karena tergilas mobil orang-orang kota itu. Seusai menguburkan jasad Keling di bawah pohon randu, puun Jarwo berlalu ke dapur, mencari sebilah paku dan sebuah martil. Sejenak ia melakukan ritual singkat di dalam kamar gelapnya. Setelah usai, Ki Jarwo keluar dari kamar gelap itu sambil berkomat-kamit, lalu kembali ke bawah pohon randu. Saat ini tengah musim penghujan. Pohon randu itu terlihat subur. Daunnya hijau dan lebat. Tapi umurnya tidak akan lama lagi, kata Ki Jarwo dalam hati. Setelah mengawasi pohon itu beberapa saat, ia berjongkok di bawahnya, membenamkan ujung paku ke pangkal batang pohon. Kemudian ia berkata diliputi bara dendam yang mengerikan. “Siapapun yang telah menghilangkan nyawa Keling, Aku akan memastikan nasibnya akan sama dengan pohon randu ini.” Guntur menyambar dengan suaranya yang menggelegar, seolah langit memprotes perbuatan keji Ki Jarwo. Bersamaan dengan itu, dengan bibir mengicut ketat ke pinggir diliputi amarah, laki-laki tua itu memukul-mukul kepala paku dengan martil hingga terbenam habis.

 “Sekarang tinggal menunggu perkembangannya. Aku tidak pernah gagal,” bibir Ki Jarwo menyunggingkan senyum puas. Orang kota itu harus dikasih pelajaran. Selamanya Ki Jarwo tidak menyukai orang kota. Mereka selalu datang seperti segerombolan maling. Lalu pulang setelah melakukan pengrusakan. Tanpa meminta maaf. Tanpa rasa bersalah. Kadang Ki Jarwo merasa heran sendiri pada prilaku orang kota. Mereka selalu menganggap dirinya pintar, dan selalu memberikan berbagai penyuluhan pada warga dusunnya. Mendirikan sekolah dan menyuruh anak-anak dusunnya untuk belajar di sana. Menghimbau semua orang dusun untuk belajar baca tulis, tapi untuk apa jika mereka juga melakukan pengrusakan di mana-mana. “Kami memang tidak bisa baca tulis, tapi hutan kami terjaga. Tidak pernah membunuh binatang melebihi kebutuhan. Untuk apa kalian meminta warga dusun ini untuk belajar baca tulis?” ujar Ki Jarwo ketika kedatangan dua orang pemuda berseragam ke rumahnya. “Ya kalau bisa baca tulis biar tidak mudah dibohongin orang ki.” Ki Jarwo tertawa sinis. “Kalian sendiri yang suka berbohong, suka mencuri, suka saling bunuh. dan kalian sendiri yang serakah. Meskipun kami tidak bisa baca tulis, hidup sederhana, tapi kami merasa tentram. Asal jangan kalian rusak hutan kami.”

 Bagi Ki Jarwo, orang-orang kota itu tak lebih dari para pembual dan suka bersilat lidah. Menyuruh warganya belajar membaca, padahal orang kota sendiri yang tidak mampu membaca alam. Memberikan penyuluhan moral padahal dirinya sendiri yang amoral. Mengajari cara hidup beradab, padahal dirinya sendiri yang biadab. Jika ada orang kota yang merebut hatinya hanya satu, yaitu Surya. Pemuda itu pengecualian. Ia berbeda dengan orang-orang kota lainnya yang datang ke dusunnya. Surya adalah pemuda yang sangat santun. Di samping itu ia amat menghargai orang-orang dusun. Surya sama sekali tidak canggung makan dengan gesek panggang daun kopi dan sambal terasi di dapur Ki Jarwo yang kotor. Dia juga kadang membantu warga memasarkan gula aren dan madu teuweul ke kota. Sikapnya yang membaur membuat Ki Jarwo simpatik dan jatuh cinta padanya.

 Perkenalan pertamanya terjadi, ketika Surya datang ke rumahnya. Pemuda itu mewakili nama-nama atasannya yang tidak ia kenal. Mereka berbicara cukup lama. Intinya ia meminta ijin secara resmi kepada seluruh masyarakat dusun melalui Ki Jarwo sebagai sesepuh, untuk mendirikan pabrik air mineral di atas tebing sindang. Setelah itu beberapa bulan berlalu dan pemuda itu datang kembali dengan wajah pucat. “Ki tolong saya, ada beberapa pegawai di pabrik kesurupan.” Dan Ki Jarwopun bergegas. Sejak saat itu hubungan mereka menjadi dekat. Sangat dekat. Bahkan cukup intim. Jika punya waktu luang, Surya selalu menyempatkan diri bertandang ke rumah panggung kecilnya sekedar untuk ngobrol dan menghadiahinya beberapa bungkus rokok yang wangi. Kadang Surya sampai tertidur di amben teohnya. Tak terpungkiri, kian hari Ki Jarwo kian menyukai pemuda itu. Bahkan dengan penuh kesadaran ia telah menganggap pemuda itu sebagai putranya.

 Surya tinggal di rumah tembok yang dibangun di ujung dusun tak jauh dari pabrik. Setiap hari libur ia selalu pamit pada Ki Jarwo untuk pulang ke kota. Dan ketika kembali, ia selalu membawa banyak oleh-oleh buat Ki Jarwo. Tapi kini sudah hampir dua minggu Surya tidak muncul. Tepatnya sejak ia berpamitan untuk pulang ke kota di suatu siang yang mendung. Tidak ada oleh-oleh yang mampir ke rumahnya. Sudah tidak ada satu batangpun rokok wangi yang selalu diberikan surya untuknya. Kemanakah anak itu? Mata Ki Jarwo tak berkedip menatap pohon randu yang sudah menjadi ranting. Ia semakin merasa kesepian. Langit sore berwarna jingga, dan cahayanya yang kekuningan menerpa wajah keriput nya. Tangannya dengan terampil menaruh tembakau kepermukaan daun kaung, lalu melintingnya. Ia amat rindu rokok wangi pemberian surya. Sudah lama ia tidak menghisap rokok daun kaung pekak seperti ini, tepatnya sejak Surya selalu memberikannya berbungkus-bungkus rokok dari kota dengan tembakau beraroma sedap. Tapi kini rokok kretek wangi itu sudah habis. Tidak ada satu batangpun tersisa di sunduk biliknya.
 Kemarin Ki Jarwo terpaksa menitip uang pada tetangganya yang mau turun gunung untuk menjual madu teuwel, supaya membelikannya dua iris tembakau di tokonya koh Ahong di sudut terminal pasar.

 Pada saat itu sebuah mobil jeep berwarna hitam menepi di depan rumah panggung kecilnya. Itu mobil Surya. Seketika bola mata Ki Jarwo berbinar, ia segera membatalkan lintingan rokok daun kaungnya. Surya pasti membawakan rokok kretek wangi untuknya. Ki Jarwo segera turun dari bibir amben teohnya. Ia akan segera mengadukan tentang kematian Keling dan pohon randu itu pada Surya. Tapi kemudian dia heran, karena yang turun dari mobil bukanlah Surya, tapi pemuda lain. Temannya Surya. Pemuda itu bergegas mendekatinya dan menyapa dengan ramah. “Saya datang ke sini untuk menyampaikan berita buruk pada Aki,” kata pemuda itu setelah duduk di sampingnya. “Berita buruk apa?” tanya Ki Jarwo heran. “Ini tentang Surya, ia sakit parah,” kata pemuda itu lagi. Lalu lanjutnya, “sepulang dari sini, tiba-tiba Surya jatuh sakit. Keluarganya sudah membawanya ke rumah sakit. Tapi tidak ada satu dokterpun yang memahami penyakit Surya. Anehnya penyakitnya langsung parah. Dan sekarang dia sekarat.” Seketika Ki Jarwo merasakan darahnya seakan berhenti mengalir. Matanya berpaling pada pohon randu yang sudah meranggas. “Apakah Surya pernah bercerita tentang anjing sebelumnya?” tanya Ki Jarwo gamang. “Anjing..?” pemuda itu berpikir sejenak. “O iya, sebelum pulang ke kota, Surya sempat cerita pada saya, kalau ia menabrak seekor anjing tanpa sengaja, lalu membuang bangkainya ke sungai.” Jelaslah sudah. Dirinyalah yang telah membunuh Surya.

 Langit serasa runtuh di atas kepalanya. Setelah pemuda itu pergi. Ki Jarwo mengambil sebilah golok yang terselip di sela dinding bilik dapurnya. Ia lari ke dalam hutan sambil berteriak sekuatnya. Makin ke dalam hutan. Goloknya menyabiti setiap pohon yang dilewatinya. Seraya mengutuk dirinya sendiri, Ki Jarwo menyurukan kepalanya ke dalam gerombolan ilalang. Ia menangis tersedu-sedu diliputi penyesalan yang tak terhingga. Ia sudah dapat memastikan, kalau pohon randupun akan segera mati. (PUSKA TANJUNG)
READ MORE - POHON RANDUPUN MATI

Jumat, 06 April 2012

GAUN BIRU

Rumah besar mertuaku sudah ramai, ketika aku dan keluargaku tiba. Penata rias sibuk mendekorasi seluruh rumah dengan back round berwarna emas yang mewah. Sebagian lagi sibuk menyusun bunga-bunga segar dipelaminan. Besok Windy, adik suamiku yang paling bungsu akan menikah.

“Lola kenapa baru datang…” Sambut ibu mertuaku riang. “Ibu kira kamu mau datang jauh-jauh hari sebelum hari h, ibu jadi tidak punya teman untuk berembuk.”

“Maafkan Lola bu, habis anak-anak tidak bisa ditinggal, mereka harus sekolah”

“Ya, ibu mengerti, sekarang anak-anak dimana?”

“Masih didepan, nurunin barang sama bapaknya.”

“Terus sekolahnya besok..?”

“Minta ijin libur dua hari. Ngga apa-apalah, kasihan, Mereka juga pengen lihat tantenya dirayain.”

Ditengah percakapan itu, seorang wanita cantik berusia diawal tiga puluh tahunan datang mendekati kami agak canggung. Dia menanyakan sesuatu pada ibu.

“Ada digudang, ambil saja.” Jawab ibu tak acuh.

Dan wanita itupun berlalu tanpa bicara apapun.

Melihat wanita itu, aku seperti dilanda de javu. Rasanya aku pernah melihat wanita cantik itu sebelumnya. Tapi dimana?

“Siapa dia bu?” Tanyaku spontan.

“Keponakannya istri wak Nur.”

Wak Nur adalah kakak ibu mertuaku yang paling tua. Dia tinggal diKalimantan. Menurut cerita ibu mertuaku, wak Nur hampir tidak pernah pulang kekampung halaman. Bahkan sejak aku menikah dengan mas Indra, lima belas tahun yang lalu, hingga kini putri pertamaku menginjak remaja, sekalipun aku belum pernah bertemu dengan wak Nur.

Pada keesokan pagi harinya, Ketika Windy tengah dirias dikamar pengantin, sementara aku dan beberapa kerabat suamiku yang sudah sangat kukenal, tengah ribut memilih kebaya dari koper yang sudah disediakan tukang rias, wanita itu masuk. Ia kelihatannya baru selesai mandi.

“Kata ibu, tadi Windy manggil saya?” Tanya wanita itu.

“Oh ya.” Windy yang tengah sibuk didandani berpaling pada wanita itu. “Mbak Riris juga harus mengenakan kebaya.”

Oh namanya Riris, kataku dalam hati.

Sejenak wanita itu terdiam. Sekilas ia melempar pandangan aneh padaku. “Ngga usahlah, Mba Ririskan tugasnya cuma didapur, jadi pembantu.” Cetusnya sinis.

“Kok mba Riris ngomong kaya gitu sih, Windy jadi ngga enak nih.”

“Sudahlah ngga usah dipikirin.” Lalu dia keluar dari kamar.

Windy jadi kelihatan serba salah.

Aku sendiri agak heran. Ada apa dengan wanita itu? Mengapa ia tampak begitu sinis, sedih, dan tertekan. Tapi aku tak begitu berniat untuk mencari tahu.

Pada jam 9 pagi, rombongan keluarga pengantin laki-laki tiba. Kami menyambutnya dengan musik gamelan dan acara buka pintu yang mendayu-dayu. Mas Indra yang ganteng semakin tampan mengenakan stelan blangkon dengan keris dipunggungnya. Ia menggamit lenganku yang membawa untaian melati diatas baki. Sebagai anak tertua, mas Indralah yang akan mengalungkan melati itu dileher calon mempelai pria. Bahkan Mas Indra jugalah yang nanti akan menikahkan Windy, menggantikan almarhum bapaknya. Tapi dasar mas Indra, ditengah acara sesakral itupun ia masih sempat menggodaku. “Mam kamu cantik sekali mengenakan kebaya ini, sungguh.”

“Huss! Jangan memuji ditengah umum, malu.” Sergahku manja sambil mencubit lengannya.

Mas Indra dengan mesra menggamit pinggangku.. Dia memang senantiasa membuatku tersanjung, dengan tumpahan kemesraan yang tidak pernah kering. Sebagai istri aku amat bangga bersuamikan dia. Mas Indra adalah tipikal suami idaman. Disamping ketampanan yang dimilikinya, ia juga tipe pria setia. Ia amat memanjakanku dan anak-anak. Hanya satu kekurangannya, ia teramat posesif. Mas Indra tak pernah membiarkanku pergi keluar sendirian. Bahkan untuk belanja kepasarpun, ia selalu menyempatkan diri untuk mengantar.

“Aku ngga rela. Takut ada lelaki yang ngegodai kamu dijalan.”

“Siapa lagi yang mau ngegodain ema-ema kaya gini, akukan sudah tua.”

“Siapa bilang kamu sudah tua, kamu masih sangat cantik kok.” Sanjung mas Indra selalu, membuat pipiku memerah.

Kali inipun begitu. Semakin banyak orang, ia semakin menampakan kemesraannya. Tingkahnya seolah menyiratkan bahwa kami adalah pasangan yang paling serasi. Tangan mas Indra sedetikpun tak lepas menggamit pinggangku. Pada saat itulah mataku menangkap sosok Riris yang tengah mengawasiku dari kejauhan. Ia berada dibarisan rombongan keluarga suamiku. Wanita cantik itu mengenakan gaun berwarna biru. Seketika aku teringat pada acara resepsi khitanan putraku yang paling bungsu, lima bulan yang lalu.Ya lima bulan yang lalu. Berarti wanita bergaun biru yang datang keacara khitanan putraku adalah Riris. Gaun biru yang dikenakan Riris itu, persis gaun biru yang kami temukan dibutik langgananku.

Kala itu mas Indra, mengajak aku dan anak-anak belanja pakaian . Dibutik itulah kami menemukan gaun berwarna biru. Mas Indra sangat menyukainya. Ia ingin membelikannya untukku. Tapi setelah dipas, ternyata gaun itu agak kebesaran untuk ukuran tubuhku yang mungil. Mas Indra sempat meradang karena kecewa.

“Padahal gaun itu bagus sekali lho mam, aku ngebayangin kamu mengenakannya. Pasti sangat bagus sekali. Kesannya elegan. Coba tubuh kamu agak tinggi sedikit saja.”

“Sudahlah pa, baju yang kita beli ini saja bagus kok.”

“ Ngga sih aku cuma suka saja warna biru.”

Aku tahu betul kalau suamiku amat suka warna biru. saking fanatiknya hampir semua barang milik pribadinya berwarna biru, dari mobil, hand phon, tas kerja, sampai seluruh rumah di cat warna biru. Kadang aku bosan, mataku sakit melihat seluruh isi rumah, sejauh mata memandang hampir nyaris didominasi warna biru.

Kembali kegaun warna biru, kala itu sehari sesudah resepsi khitanan gaun warna biru yang dikenakan Riris menjadi topik bahasan dirumah ku. Yang pertama membuka adalah aku.karena ingat mas Indra yang begitu beranimo ingin memeiliki gaun itu untukku.

“Put ingat ngga wanita yang mengenakan gaun warna biru kemarin ?“ Tanyaku pada putri sulungku.

“Yang mana ma ?”

“Yang itu. Yang datang bareng mbah Putri dan mba Windy.”

“ Oh iya ingat-ingat! itukan persis gaun yang mau mama beli waktu itu.”

“Persis banget ya put ?”

“Yakin persis banget ma. Detailnya persis.”

“kata papa kamu, kalau beli gaun dibutik itu enak, ngga bakalan ada yang nyamain. Buktinya itu ada yang pakai.”

Mas Indra yang tengah main game dicomputernya, merasa terganggu dengan percakapan aku dan Putri. ” Ada apasih, dari tadi kok pada rebut aja.”

“Ituloh pa, papa ingat ngga sama perempuan yang pakai gaun biru, di acara khitanan Emil kemarin.”

“Ya kenapa ? Tanya suamiku tak acuh .

“Gaun itukan persis seperti gaun yang waktu itu mau dibelikan papa untuk mama.”

“Ya lalu ?”

“Siapa sih perempuan itu pa, kayanya saudara papa deh. Dia duduknya saja bareng sama tante Windy. Masa sih papa ngga kenal.”

“Putri, saudara papa itu banyak sekali, ditambah lagi dengan saudara bawaan, misalnya sepupu dari istrinya sianu, atau suami dari adik ipar siapa. Kan papa tidak mungkin harus mengingat dan mengenal semuanya. Coba bayangin, sama wak Nur yang diKalimantan aja, sampai saat ini papa ngga tahu anak-anaknya seperti apa.”

Disaat acara ijab Kabul pernikahan Windy, aku duduk mendampingi mas Indra yang kala itu berperan sebagai wali atas Windy. Entah kenapa Riris, wanita bergaun biru itu duduk pas dibelakang kami berdampingan dengan ibu mertuaku. Keberadaannya menyiratkan bahwa ia memiliki pertalian keluarga yang amat dekat. Padahal kata ibu, ia cuma keponakannya istri wak Nur. Tapi kala itu aku tidak begitu memikirkannya. Namun disaat acara Ijab Kabul usai, dan seluruh keluarga tenggelam dalam tangis haru mengiringi ucapan selamat dan peluk cium pada kedua mempelai, aku melihat Riris. Diapun menangis. Tapi tangisan Riris, bukan tangis haru seperti yang lainnya. Tangisan Riris lebih merupakan ungkapan kepiluan hati yang teramat dalam.

Seketika terbersit dalam benakku, untuk mencari tahu, kesedihan apa sebenarnya yang tengah melanda gadis itu. Aku yang selama ini tak begitu memperdulikan Riris, merasa tergelitik ingin mengenal dia lebih dekat. Namun sayangnya saat itu aku tidak memiliki kesempatan untuk mendekati Riris. Mas Indra yang manja terlalu mendominasi setiap gerakku, hingga kemudian aku pulang dan melupakan gadis itu.

Sebulan kemudian, mas Indra mendapat tugas kantor ke Singapura selama tiga hari. Kami sekeluarga mengantarkannya kebandara.

“Hati-hati ya dirumah, jaga anak-anak ya mam.” Pesan mas Indra sebelum berangkat.

“Ingat lho mam, jangan ngeluyur kemana-mana.” Mas Indra mengingatkanku sebelum masuk keBourding pass.

“Ngga. Tenang saja. Paling juga kepasar.”

Mas Indra melotot. “Jangan. Kepasar juga ngga boleh.”

Mulai… Sikap posesipnya kumat lagi. Rutukku dalam hati. “Aih kalau makanan dirumah habis gimana?”

“Tapi janji lho, cuma kepasar.”

Itulah mas Indra, setiap saat ia selalu membuat aturan. Dan sebagai istri yang baik, aku senantiasa mentaatinya. Namun pada hari ketiga setelah kepergian mas Indra, lemari esku kosong. Tidak ada lagi stok makanan untuk anak-anak, akhirnya aku terpaksa pergi kepasar.

Sepulang dari pasar, ojek yang kutumpangi terjebak macet diujung jalan menuju komplek tempat tinggalku. Sepertinya telah terjadi sebuah insiden. Kerumunan masa menyemut disekitar halaman sebuah rumah mungil yang cantik. Ada mobil ambulan terparkir dipinggir jalan, dan beberapa polisi tengah memasang garis kuning disepanjang pelataran rumah itu.

“Ada apa ya?” Tanyaku pada tukang ojek yang kutumpangi.

“Kurang tahu ya bu, mungkin ada kasus pembunuhan kali.”

Aku melirik jam ditanganku. “Aduh sudah siang. Sebentar lagi anak-anak pulang, mana belum masak lagi.” Keluhku.

Ojek yang kutumpangi tersendat pas tak jauh dari mobil ambulan. Dari tempat kejadian peristiwa, empat orang polisi menggotong sebuah tandu jenajah menuju mobil ambulan. Karena ojekku berada pas disamping mobil ambulan jadi aku sempat melihat, jenajah itu terkulai didalam tandu dengan ujung tangan masih meneteskan darah.

“Kelihatannya korban bunuh diri.” Gumam tukang ojek.

Jenajah itu seorang wanita, ia mengenakan gaun berwarna biru. Seketika hatiku tercekat, gaun biru itu, gaun biru yang dikenakan Riris. Aku ingin sekali melihat wajah wanita bergaun biru itu, tapi polisi menutupnya dengan sebuah kain. Namun sebelum jenajah itu dimasukan kedalam mobil, seorang polisi berbaju preman mendekati, membukakan kain penutup wajah korban dan mencatat. Disaat itulah aku melongok, tanpa kusadari aku berteriak. “Riris!” Aku melompat dari atas motor ojek dan menyeruak diantara kerumunan polisi. “Dia Riris, saudara jauh suami saya.”

“Ibu kenal suaminya?” Tanya polisi itu.

“Punya suami? Saya tidak tahu.”

“Ini data suaminya pak, ada nomor telephon genggamnya disini.” Seseorang menyerahkan secarik kertas ketangan polisi berbaju preman itu.

“Indra Herlambang. Ini nama suaminya?” Tanya polisi itu setengah bergumam.

Seketika kepalaku seperti disengat petir. “Indra Herlambang. Indra Herlambang itu nama suamiku.” Seketika aku berlari melintasi garis kuning. Beberapa polisi berteriak mencegah. Tapi sama sekali tidak kugubris. Langkahku dengan cepat membawa kedalam rumah mungil itu. Disana, didinding ruang tamu yang bercat biru, aku melihat sebuah foto artistik terpajang. Foto pengantin. Pengantin Riris dan Indra Herlambang suamiku. Seketika langit serasa tumpah diatas kepalaku. Kegaduhan dan hiruk pikik suara polisi yang mengejarku hilang. Yang ada hanya kegelapan tak berujung, dan kesunyian yang dingin. [ PUSKA TANJUNG.]
READ MORE - GAUN BIRU

SELINGKUH

Malam sudah beranjak tua ketika aku terjaga dari lelapku. Lelap sekejap yang mengendurkan keletihan, setelah tamasya mengelilingi angkasa raya. Aku dan Mer telah menjadi dua cupid bersayap, berjingkat-jingkat di atas awan, memecahkan gumpalannya dan menurunkan hujan, hingga membuat seluruh dunia terguncang.
Hidungku mengendus bau aroma rambut Mer yang ada di bawah ketiakku. Kutatap wajahnya yang cantik dengan kelopak mata terpejam. Ia wanita luar biasa. Seperti sepotong keju yang dipasang di dalam perangkap dan aku tikusnya yang telah terjerat. Dia segelas anggur yang membuatku tak terkendali ingin menenggaknya terus menerus. Dia meja judi dan tumpukan kartu domino yang membuatku lupa diri dan lupa waktu.

Tanpa beranjak dari pembaringan dan tanpa melepaskan diri dari cengkraman tangan Mer di perutku, tanganku menggapai, mengambil telephon selularku di meja kecil di samping ranjang. Telephon yang sudah kumatikan sejak tadi siang. Tepatnya sejak aku menyelinap keluar dari kantor secara diam-diam bersama Mer. Jam di telephon selularku sudah menunjukan pukul sepuluh malam. Berarti sudah enam jam aku menghabiskan waktu dengan Mer. Telephon genggam adalah teman baikku. Ia menceritakan padaku, kalau istriku Dani sudah berulang-ulang menghubungiku. Seketika sekelumit rasa bersalah menampar dadaku.
“Mer bangun,” ujarku seraya menepuk-nepuk pipi Mer lembut. Ia membuka matanya malas.
“Kita harus pulang sayang. Sudah cukup malam,” kataku.
Malam itu, seperti saat-saat yang pernah aku lewati bersama Mer sebelumnya. Kami keluar dari kamar motel seperti dua orang penyamun yang baru keluar dari persembunyiannya. Beberapa penjaga motel yang kebetulan berpapasan menyapa sambil tersenyum penuh pengertian. Mereka adalah rekan kolusiku yang melindungi perselingkuhanku dengan Mer. Juga perselingkuhan-perselingkuhan para suami lainnya yang memanfaatkan jasa motelnya. Di sepanjang jalan pulang, di dalam mobil, Mer tak henti-hentinya menyanyikan lagu cinta murahan, sambil bergayut di bahuku manja.

“Sampai jumpa lagi besok di kantor ya mas,” ujar Mer ceria, sebelum turun dari mobilku. Di pelataran teras rumahnya, aku melihat suami dan anak Mer tengah menunggu. Tanpa canggung Mer meletakan dua jemari tangannya di mulutnya, memberiku ciuman jauh. Ah Mer, seharusnya ini tidak boleh terjadi. Ini sebuah kesalahan.
Tak ada kata yang tepat bagiku saat ini, selain menyebut diriku tengah keranjingan. Aku tahu betul ini salah, tapi sensasi itu terlalu membiusku. Dan aku telah membiarkan diriku terjerembab.
Tapi Tuhan amat konsekwen dengan janji-janjinya. Tak ada yang luput dari rasa panas bagi setiap orang yang menyalakan tungku perapian. Sungguh, barusan Tuhan telah membiarkanku menikmati kenikmatan surgawi, yang membuatku melambung ke alam bawah sadar. Tapi kini aku dilemparkan ke dalam jurang yang amat kelam. Dani, istriku menyambut kepulanganku di ambang pintu dengan wajah keruh.
“Sedari tadi aku berusaha menghubungimu pa,” kata Dani ketus. “Tapi Hpmu mati terus, kenapa sih?” Dani menatapku penuh selidik.

“Jangan marah dulu,” sergahku tanpa rasa bersalah. “Tadi di kantor papa banyak kerjaan, jadi HPnya sengaja dimatikan. Supaya tidak terganggu,” jawabku berbohong.
“Aku juga nelphon ke kantor kok, tapi ngga ada yang ngangkat,” dahi Dani berkerut.
“ Oh begitu? Tentu saja, orang resepsionisnya pulang cepat, jadi ngga ada yang nyambungin telephon ke ruangan papa.”
Aku tahu Dani tidak begitu saja percaya pada alasanku. Tapi setidaknya untuk saat ini, itu cukup membungkam mulutnya.
“Memangnya ada apa tadi nelephon?” tanyaku kemudian sambil menyelonong masuk ke dalam.
“Si kecil sakit, badannya panas. Tadinya aku pengen diantar ke dokter.”
Aku semakin merasa bersalah.
“Terus sekarang keadaannya bagaimana?” tanyaku cepat.
“Tadi sore sudah dibawa kedokter, di antar tetangga sebelah.”
“Sekarang anaknya di mana?”
“Sudah tidur, lumayan panasnya sudah mulai turun.”
Ini adalah hukuman. Aku ayah dan suami yang tidak tahu diri. Sejatinya sebagai ayah aku ada ketika mereka membutuhkan. Betapa dholimnya aku, di saat anakku sakit dan istriku panik, aku justru tengah bersuka cita dalam pelukan wanita lain. Laki-laki macam apa aku ini? Diliputi rasa bersalah, kuawasi wajah anak-anakku yang tengah terlelap di atas ranjang. Ingin rasanya aku berteriak memaki diriku sendiri. Perbuatan nista itu tidak boleh dilanjutkan lagi. Aku sudah memiliki dua putri cantik dan seorang istri yang tabah. Tak selayaknya mereka kusakiti.

Malam itu kupeluk tubuh krempeng istriku dengan erat. Seakan dengan begitu secara tidak langsung aku tengah memohon pengampunan darinya. Kulihat ada setetes airmata mengalir dari sudut mata Dani.
“Aku merasa belakangan ini kamu semakin jauh dari kami pa,” bisik Dani. “Kamu selalu pulang malam setiap hari. Aku amat kesepian,” Dani terisak-isak.
“Maafkan aku, aku berjanji akan menebus hari-hari yang hilang itu,” hiburku.
Tapi itu bukan sekedar kata pelipur lara. Itu adalah janji. Di dalam hati aku bersumpah. Aku akan menghentikan perselingkuhanku dengan Mer. Karena itu amat salah. Aku tidak akan lagi membohongi anak istriku. Tidak akan lagi.

Tapi keesokan harinya, menjelang pulang, Mer masuk ke dalam ruanganku dan duduk di atas pangkuanku. “Mas, malam ini kita dinner lagi yoo,” Godanya manja.
Seketika wajah istri dan anak-anakku lenyap ditelan bumi. Segera kupijit tombol HPku. “Hallo mam, maaf malam ini papa tidak bisa pulang cepat, karena ada miting mendadak.”
Setelah itu telephon genggamkupun mati. (PUSKA TANJUNG)
READ MORE - SELINGKUH

RAMBUT

Dengan telaten Dinda, adiknya Damar menyisir rambut kakaknya yang panjang tergerai melewati pantat hingga ke betis. Dirurutnya dengan sisir besar berulang-ulang, meluruskan jalinan rambut yang kusut masai. Beberapa helai yang rontok dikumpulkan di bawah kakinya. Ibunya yang tengah duduk di atas kursi goyang sambil menyulam, sejenak mengawasi dengan seksama. Tatapan wanita tua itu diliputi keharuan. Mudah-mudahan target terakhir yang ditentukan Damar tidak meleset, katanya dalam hati. Ia sudah sangat gerah melihat rambut Damar yang panjang.

“Sudah selesai belum Dinda?” tanya Damar. Punggungnya mulai terasa pegal karena terlalu lama berdiri.
“Sebentar lagi kang,” ujar Dinda seraya terus menyisiri rambut Damar. “Diam dong, ini belum rapi,” Dinda menghardik.
Sejujurnya gadis manis itu mulai bosan dengan tugas rutinnya menyisiri rambut Damar, kakak keduanya. Entah sudah berapa tahun ia melakukan rutinitas itu setiap hari, tepatnya sejak Damar tidak lagi mampu mengurus rambutnya sendiri karena terlampau panjang. Kadang-kadang dia heran sendiri pada sikap kakaknya yang tidak bersedia menggunting rambutnya walau cuma sesenti.
“Apa sih yang istimewa dari rambut panjang kaya begini? Cewekpun takut ngeliat akang,” Omel Dinda sering kali. “Seniman bukan, senewen ia.”
Tapi Damar tidak bergeming.
Sebagian orang mempercayai rambut adalah mahkota. Sehingga para peƱata rambut berlomba menciptakan trandsetter, kemudian jutaan orang menjadi korban. Berganti model rambut sesuai trend, tak perduli apakah akan membuatnya lebih menarik atau sebaliknya. Tapi semua teman-teman Damar tahu, tidak ada yang lebih gila dari Damar jika membicarakan soal rambut. Teman-teman Damar sepakat menyebut Damar si gondrong antik. Pencinta rambut yang tak ada duanya. Ironisnya Damar pribadi tidak menganggap rambut sesuatu yang amat penting dan patut digilai., baginya rambut hanyalah rambut. Sejumput bulu yang tumbuh di kepala lalu terus-menerus memanjang. Tidak ada yang istimewa. Tidak sedikit orang yang tetap menawan meski kepalanya pelontos tanpa rambut. Para wanita muslim menyembunyikan rambutnya di dalam jilbab modern yang manis, dan ia masih tetap tampil cantik. Bahkan lebih ayu dan tampak bermartabat dibanding para wanita yang menata rambutnya dengan cat warna-warni. Sementara mahkota menurutnya hanyalah sebuah predikat dari puncak pencapaian. Mahkota adalah lambang kesuksesan. Damar telah menstandarkan diri dengan motto ciptaannya sendiri. Mahkota itu akan singgah di kepalanya dan membabat rambut panjangnya jika semua target pribadinya tercapai. Kedengarannya memang eksentrik bahkan sedikit gila. Tapi itulah Damar. Ia beritikad dengan konsep hidup yang dia pilih.
“Dinda pengen banget hari bersejarah itu segera datang, Kalau bisa secepatnya .Supaya Dinda terbebas dari tugas menyebalkan seperti ini,” keluh Dinda. Lalu mendorong punggung Damar sebagai isyarat acara menyisir rambutnya telah usai.

“Jangan begitu dong adik akang tersayang,” Damar memencet hidung adiknya gemas. “Nanti kapan-kapan, akang pasti kangen pengen disisirin sama kamu,” ujar Damar seraya mengonde rambut di belakang kepalanya dengan trampil. Lalu menyembunyikannya di balik topi baret bututnya.
Damar memang unik. Tak ada yang bisa menyangkal kalau pribadi Damar agak eksentrik. Apalagi jika melihat rambut panjangnya yang tergerai menyentuh betis. Sudah hampir dua belas tahun ia tidak memotong rambutnya secuilpun. Tepatnya sejak lulus sekolah menengah atas. Awal mulanya ibu Damar mengira kalau Damar sekedar ikut-ikutan trend, karena teman-teman kuliahnya kebanyakan berambut gondrong. Tapi kemudian ibunya kaget sendiri ketika suatu hari menyuruh Damar memotong rambutnya, lalu anak itu mengutarakan sebuah pengakuan.
“Ini bukan sekedar gondong ibu,” kata Damar. “Ini adalah sebuah tekad. Lebih tepatnya kaul saya kepada diri saya sendiri.”
“Maksud kamu?” ibunya menatap tak mengerti.
“Setiap manusia pasti memiliki impian. Atau lebih tepatnya tujuan hidup. Tapi aku tidak memeluk impianku tanpa tekad. Aku berusaha membuat konsep. Memang kedengarannya gila. Semua cita-citaku akan kujadikan target, dan rambut adalah barometernya.”
Ibunya semakin tidak mengerti.
“Maksud Damar begini bu..” Damar menyandarkan kepalanya di pangkuan ibunya manja. “Target pertama Damar adalah menyelesaikan study. Dan yang kedua bekerja di tempat yang bagus. Yang ketiga memiliki rumah pribadi, mobil pribadi, dan tabungan pribadi. Dan target yang terakhir menikah. Jika keempat target itu dapat diraih, baru rambut ini akan dipotong.”
Ibu Damar ternganga, menatap putranya tidak percaya, dan agak bergidik. “Kamu serius?”
Damar mengangguk yakin. “Sangat serius.”
Meski demikian ibu Damar masih tetap mengira kalau Damar tengah bercanda. Suatu saat nanti ia akan bosan dan merasa gerah sendiri dengan rambutnya. Lalu melupakan kaulnya. Namun waktu berlalu dengan capat, dari satu tahun, dua tahun dan kini sudah nyaris dua belas tahun. Dan rambut Damar kian panjang saja.
“Sudahlah, lupakan kaulmu itu Damar. Lihat tampangmu sudah kaya Gajah mada saja,” cetus ibunya di suatu hari.

Tapi Damar tak bergeming. Ia tetap teguh dengan pendiriannya.
Ibu Damar dilanda gelisah. Hatinya miris mengingat tidak semua orang dapat meraih semua impiannya. Haruskah sepanjang hidupnya Damar direpotkan dengan rambut panjangnya. Memang target Damar mulai tercapai satu persatu. Studynya selesai tepat waktu. Kemudian ia mendapatkan kesempatan bekerja di tempat yang bagus dengan gaji yang cukup memadai. Dan iapun mulai rajin menabung untuk mewujudkan target-target selanjutnya.
“Tinggal selangkah lagi bu. Tuhan telah memberkahiku dengan mewujudkan sebagian besar target-target yang telah kutentukan,” ujar Damar girang setelah berhasil membeli sebuah rumah kecil hasil jerih payahnya.
Tentu saja ibu Damar amat bersyukur. Dan kini ia bisa sedikit bernafas lega setelah Damar menggandeng seorang gadis manis yang akan segera dipersuntingnya. Rambut panjang itu telah menjadi sejarah besar hidup putranya. Memotifasi semua impiannya. Jika Tuhan meluruskan jalannya, dan pernikahan Damar dapat berlangsung sesuai rencana, berarti usia rambut panjang Damar tinggal sehari lagi.

Ya besok Damar akan menikah. Mewujudkan targetnya yang terakhir. Beberapa kerabat dekatnya mulai berkumpul di rumahnya yang sederhana. Para wanita sibuk mengemas berbagai hantaran yang akan dibawa besok ke rumah mempelai wanita. Tak ayal lagi, kini kisah rambut panjang Damar menjadi perbincangan hangat di antara mereka.

“Sebelum menikah atau sesudah menikah, acara pemotongan rambutnya?” tanya salah satu kerabatnya, seraya menata hantaran dalam keranjang dengan dipermanis aplikasi cantik.
“Tentu saja setelah menikah. Karena sudah menjadi tekad Damar hanya akan memotong rambutnya jika ia sudah menjadi seorang suami.”
“Aku tidak sabar ingin menyaksikan acara itu, pasti mengharukan,” kakak sulung Damar berkata dengan bola mata berkaca-kaca. Bukan rambut Damar yang membuatnya menangis. Tapi tekad Damar yang bersikukuh mempertahankan rambut panjangnya hingga semua impiannya tercapai. “Apa yang akan dilakukan Damar dengan potongan rambutnya nanti?”
Semua orang yang ada di rumah itu seperti terusik dengan pertanyaan itu.
“Ya ibu, rambut itu mau diapakan nantinya?”
“Dinda, kamu yang nyisirin rambut Damar setiap hari. Akan kamu apakan potongan rambut itu nantinya.”
“Di jual saja, pasti mahal.”
“Di buat konde saja, atau rambut palsu.”
“Yang berhak membuat keputusan adalah Damar.”
Ketika Damar pulang, mereka memberondong Damar dengan pertanyaan seputar potongan rambutnya yang akan digunting besok.
“Dibuang saja,” jawab Damar kalem.
Semua kerabatnya terkejut.
“Jangan dong, sayang. Siapa tahu rambutmu berubah menjadi rambut keramat.”
“Rambut hanyalah rambut. Kalau sudah dipotong ya harus dibuang. Kalau sudah terpisah dari kepala namanya bukan rambut lagi, tapi sampah.”

Kemudian ibunya segera menengahi perdebatan itu. “Sudahlah. Biar ibu yang ngurus rambut Damar. Akan ibu masukan ke dalam kotak kaca sebagai kenang-kenangan.”
Keesokan harinya setelah semua rangkaian acara pernikahan Damar dengan gadis pilihannya usai, acara potong rambutpun digelar. Damar duduk di atas kursi kecil dikerumuni seluruh kerabat dan keluarga besan. Istri Damar yang tampak cantik dengan kebaya pengantin dan roncean melati yang memenuhi kondenya memasang selembar kain putih di punggung Damar. Peci hitam yang menyembunyikan rambut Damar dibuka. Dan semua orang yang hadir di sana terbelalak melihat sebuah kepang rambut Damar yang melambai hingga menyentuh tanah.

Seperti menyambut kelahiran baru, Di awali pembacaan salawat, ayah Damarpun menggunting rambut putrannya hingga batang tengkuk. Semua orang yang hadir tampak terharu. Ibu Damar menangis terisak-isak.
“Memungut bahasa motto yang Damar buat,” kata ayah Damar sambil mengacungkan potongan rambut itu di dalam genggamannya, “ini bukan hanya sekedar rambut, ini sebuah itikad.”
Semua yang hadir bertepuk tangan.

Tiba-tiba ayah Damar menyenggol sepupunya Damar yang berdiri disampingnya. Dia menatap wajah yang ada di hadapannya dengan Dagu ditumbuhi jenggot yang dikepang karena terlalu panjang. “Kamu juga mau ikut dipotong jenggotnya?” seloroh ayah Damar.
Pemuda itu menyeringai. “Tidak. Targetku tidak selesai hanya sampai menikah saja. Targetku sampai ke surga.”

Mendengar kata-kata sepupunya itu Damar terkesiap. Ia lupa, hanya surgalah target puncak semua manusia. Tapi jenggot berkepang bukan tiket menuju surga. Tiket menuju surga adalah ibadah. Dan ia sudah memulainya dengan menikah. (PUSKA TANJUNG)
READ MORE - RAMBUT

LAWANG TAJI

Magrib baru saja lepas. Sejak cahaya matahari lisut merunduk diterkam kegelapan. Tapi suasana di kampung kecil di bawah lereng gunung Karang tidak serta merta senyap seperti hari-hari biasanya. Kini malah sebaliknya, gaduh dan penuh derap langkah. Mitos keangkeran siluman Lawang Taji, sepertinya sudah tidak dihiraukan lagi. Sehingga nyanyian binatang malam yang bersembunyi di balik dedaunan kehilangan pamornya.
Ini malam minggu yang meriah. Pasalnya juragan Basuki, orang terkaya di kampung Pasir Angin tengah menyelenggarakan pesta khitanan putranya, dan menyewa kelompok orkes dangdut dengan beberapa biduan ibu kota sebagai hiburan. Orang-orang berdatangan dari berbagai peloksok seperti semut menemukan gula. Sehingga membuat kampung kecil itu sesak. Para pedagang musiman berjejer di sepanjang jalan dengan gerobag dan tenda serta meja dan bangku kecilnya. Mereka sudah berdatangan sejak tadi siang. Berebut tempat strategis dan menata dagangannya. Beberapa pedagang kacang rebus berjongkok di depan pasunya yang diterangi lampu sentir yang meliuk-liuk diterpa angin.

Kian malam gelombang manusia kian melaut di bawah panggung. Beberapa pemuda seperti tengah kerasukan, berjoget mengikuti musik dengan mata terpejam. Dentuman gendang dangdut yang membahana serta alunan nyanyian biduan yang mendayu-dayu merangkul seluruh isi kampung, sehingga membuat seluruh penduduk kehilangan kantuknya.

Tapi Daman tidak bergeming dengan kemeriahan yang tengah menggojlok seluruh isi perut kampungnya. Ia masih saja ngendon di dalam kamar kecilnya. Sejujurnya Daman sama sekali tidak menyukai kemeriahan semacam itu. Di samping tidak memiliki keberanian untuk menikmatinya. Padahal usia Daman baru saja menjelang remaja. Normalnya di usia seperti itu semangatnya lebih meletup-letup diliputi rasa serba ingin tahu. Tapi pribadi Daman yang agak pemalu dan kelewat tertutup telah membuatnya menarik diri seperti seekor siput. Karena ketidak mampuan Daman dalam bergaul dan lebih memilih menyendiri, teman-teman sebayanya, sepakat menjuluki Daman manusia antik.

Apapun julukan yang diberikan teman sebayanya, Daman sama sekali tidak perduli. Ia menikmati kesendiriannya. Malah menurutnya, teman-temannyalah yang tidak memiliki kemampuan untuk menikmati kesunyian. Padahal justru dalam diamlah Daman bisa melakukan apapun yang ia inginkan. Termasuk segala sesuatu yang tidak masuk akal sekalipun. Ia bisa memukuli guru matematikanya di sekolah yang galak dan sering membentaknya hingga babak belur. Ia juga bisa menjadikan kedua orang tuanya kaya raya hingga memanjakannya dengan membelikannya sebuah motor paling keren di kampungnya. Ia bisa menjadikan dirinya pemuda pujaan sehingga para gadis di sekolah berebut ingin memacari dirinya. Ia juga bisa mencumbu Yulianti, gadis tetangga yang menjadi buah bibir di kampungnya sehingga membuat teman-temannya iri padanya. Dan iapun bisa mengajak Arini ke kamar kecilnya. Arini anak gadis sebelah rumahnya yang sering ia perhatikan secara diam-diam itu ia peluk hingga lumat.

“ Hai man, kunaon maneh masih ngendon di kamar?”
Daman terperanjat. Rajutan khayalan di kepalanya buyar. Cepi teman sebayanya berdiri di ambang pintu. Daman sesaat mengawasi penampilan Cepi yang berbeda malam ini. Sebagai remaja belasan tahun, yang baru menginjak tahap pencarian jati diri, Cepi amat berbeda dengan Daman yang pendiam. Dia lebih berani mengekspresikan diri. Rambutnya diminyaki, Sengaja dibuat jigrag ke atas seperti orang yang habis tersengat arus listrik. Rantai-rantai dompet yang tersangkut di sabuk kulit kalepnya melambai di pinggulnya. Ia mengenakan kaos jangkis bergambar tengkorak. Bau pewangi menyengat hidung Daman.
“Ari maneh, dicari kemana-mana, tak tahunya masih ngendon di kamar.”
Daman hanya tersipu. “Urang males ka luar ey.”
“Ari maneh sok kabina-bina. Di luar rame jasa ey, maneh malah nyumpel di enggon. Ngapain? Ngelamun? Ulah sok loba ngalamun Man. Awas siah aya siluman Lawang taji lewat, di angkut.”
Siluman Lawang taji adalah sebuah mitos. Para orang tua menceritakan tentang kerajaan siluman yang ada di puncak gunung Karang untuk menakuti anak-anak supaya berhenti main di malam hari dan segera masuk ke dalam rumah untuk tidur. Konon para prajurit kerajaan siluman itu selalu berkeliaran mencari orang-orang lemah dan lupa diri, lalu dibawa ke negrinya untuk dijadikan budak di kerajaannya. Mereka dipekerjakan di dapur kerajaan siluman itu dan harus mengiris bawang sebesar tempayan setiap hari. Tapi siapa yang percaya dengan keabsahan cerita itu. Sekarang bukanlah jaman batu di mana manusia harus membuang sesajen kehulu sungai agar mendapatkan berkah dan keselamatan. Tapi kini era di mana manusia sudah mulai merancang cara untuk bisa berwisata ke bulan.

“Hayu Man ka luar. Kita cari cewek. Di luar banyak cewek,” rajuk Cepi. “Kesempatan seperti ini tidak datang setahun sekali, masa kamu diem aja di kamar, hirup mani eweuh kamonesan.”
Sejujurnya Daman tidak berminat. Tapi karena Cepi terus menerus merajuknya, akhirnya Daman beranjak dari dipan reotnya. Lalu berganti pakaian.
“Begitu dong. Semangat dikit napa,” ujar Cepi riang.
“Wuih… rame amat ya?” gumam Daman begitu keluar dari rumahnya.
Cepi mengajak Daman menerobos gelombang manusia. Menuju gerombolan teman-teman dekatnya yang tengah asyik berjoget di bawah panggung. Sang biduan mendendangkan lagu jenaka, sambil mempertontonkan goyangan pinggul yang memompa syahwat. Para pria bersiulan nakal.
Pada akhirnya Daman ikut larut dalam kemeriahan itu, meski ia tidak berani walau cuma menggoyangkan ujung telunjuknya. Dia hanya jongkok di samping panggung, mengawasi teman-temannya yang tengah kerasukan goyang dangdut. Hingga kemudian sebuah insiden terjadi. Dua pemuda bertikai tak jauh dari tempatnya berdiri. Mulanya adu jotos terus bergumul di atas tanah seperti dua ekor ayam adu. Lutut Daman gemetaran diliputi rasa takut. Beberapa orang berusaha melerainya, tapi tidak berhasil. Mereka sudah seperti sepasang pegulat yang tengah saling mengunci. Hingga kemudian, dengan melepas tembakan ke udara, seorang polisi segera memisahkannya lalu menggiring keduanya ke markas.

Tapi peristiwa itu sama sekali tidak mempengaruhi kemeriahan di atas panggung. Seorang biduan yang mempersembahkan goyang gergaji semakin memompa semangat para penonton.
“Apa sih yang menyebabkan dua pemuda itu ribut?”
Daman mendengar beberapa orang di dekatnya saling bertanya.
“Cewek. Mereka memperebutkan cewek. Tuh ceweknya yang berdiri di pojok sana.”
Daman berpaling mengikuti arah telunjuk laki-laki yang tengah berbincang dengan temannya.
“Pantas bae ceweknya bening men,” siul laki-laki di sebelahnya.
Melihat gadis itu Daman tidak bisa memungkiri kekagumannya. Seketika dadanya berdebar kencang. Pantas saja laki-laki tadi sampai bergulat habis-habisan. Ternyata yang mereka pertikaikan gadis cantik. Mulut Daman ternganga. Ia belum pernah menemukan gadis secantik ini sebelumnya. Kulitnya yang putih bersih, bibirnya yang ranum, serta bodynya yang aduhai. Dia sungguh luar biasa. Seperti gelas anggur merah bertangkai, yang mengundang para pria untuk meneguknya. Seketika wajah Arini dan Yulianti yang selama ini memenuhi kepalanya lenyap. Kini ia punya gadis lain yang lebih menggetarkan.
“Siapa nama cewek itu?”
Daman kembali mendengar orang di sampingnya bertanya pada temannya.
“Safina. Dia kembang desa Cihasem.”
Oh jadi Safina namanya, gumam Daman dalam hati. Seketika nama itu menggantung di angkasa. Sepanjang malam itu Daman tak henti mencuri pandang pada gadis itu secara diam-diam. Hingga kemeriahan itu usai pada dini hari, dan gelombang manusiapun surut, meninggalkan kampung kecil itu yang centang perentang seperti baru saja diserbu pasukan gajah. Damanpun naik dan berbaring di atas dipan kecilnya membawa sebentuk wajah dan sebaris nama di kepalanya.

Sebelumnya ia tidak pernah merasakan getaran seperti ketika melihat Safina tadi. Kini ia mendekap gadis itu di dalam khayalnya. Kesunyian yang dingin tidak serta merta membuai kantuk. Daman terlalu bergairah untuk tidak tidur. Wajah Safina mengepung seluruh isi kepalanya.
Tok….Tok…. Tok….. Daman mendengar pintu rumahnya ada yang mengetuk.
“Daman… Daman…”
Daman terperanjat. Ia mendengar suara Safina memanggilnya. Dengan cepat ia beranjak keluar. Di ambang pintu dia menemukan Safina berdiri sambil menyunggingkan senyum manis. Sepasang lesung pipit melesak di kedua belah pipinya. Sangat menggemaskan. Dia memang seperti gelas anggur merah bertangkai. Gemuruh di dada Daman berlompatan karena senang. Ini namanya pucuk dicinta ulampun tiba, pikirnya.
“Kang Daman mau ya nganterin saya pulang?” tanya Safina.
Tanpa pikir panjang Daman mengangguk. Dan Safina segera menuntun tangannya ke luar.
“Kita naik sado aja ya,” kata Safina lagi. Di pinggir jalan di depan rumah Daman, sebuah sado sudah menunggu. Sado yang amat bagus, penariknya seekor kuda gagah berwarna hitam.
Dengan riang Daman naik ke atas sado sambil menuntun Safina. Mereka duduk berdampingan. Seorang kusir yang duduk di belakang pantat kuda segera menghela sadonya. Di sepanjang jalan itu, Daman merasa aneh sendiri. Mereka tidak saling kenal sebelumnya, tapi kini duduk berdua di atas sado layaknya sepasang kekasih yang tengah di mabuk cinta. Safina dengan beraninya menggenggam jemari Daman erat-erat dan menggelendot manja. Mengapa ini harus terjadi? Tapi Daman tidak mau terlalu memusingkannya. Hatinya berbunga-bunga. Ia tengah dilanda bahagia.

Sado itu terus melaju membelah jalanan yang gelap. Langkah kaki kuda yang menyentuh aspal terdengar berdetak-detak memecah kesunyian. Mereka memasuki jalan raya yang amat besar dan beraspal licin. Lampu-lampu jalan yang terpasang berderet di kedua sisinya tampak benderang. Ini seperti jalan protokol, lebar dan tertata rapi dengan taman-taman bunga di sepanjang trotoar. Daman tidak mengenali jalur ini sebelumnya, tapi ia tidak mau menanyakannya. Karena kebersamaannya dengan Safina saat ini, sudahlah cukup baginya.

“Di mana rumahmu?” tanya Daman akhirnya.
“Sebentar lagi,” jawab Safina. “Di ujung jalan ini.”
Daman mengawasi jalan di depannya, dari ujung jalan muncul sebuah gedung yang cukup besar dengan pintu gerbang besi tinggi. Menurutnya tidak cukup pantas disebut rumah, lebih tepatnya sebuah istana. Dua orang penjaga dengan perisai di tangan berdiri di kedua sisi gerbang. Mereka mengenakan seragam dinas yang sangat aneh. Tubuhnya yang gempal dan kekar dibiarkan telanjang dan hanya mengenakan cawat kulit. Seperti dua orang gladiator.
Sado berhenti di depan gerbang. Safina menarik lengan Daman, mengajaknya untuk segera turun.
“Ini rumahku,” kata Safina. “Ayo…”
Daman masih agak canggung. Tapi Safina terus menariknya menuju gerbang. Dua orang penjaga gerbang melemparkan senyum, lebih tepatnya menyeringai. Tiba-tiba pintu gerbang terbuka secara otomatis.
“Ayo, jangan ragu-ragu,” ajak Safina lagi, seraya menarik lengan Daman keras. Dua orang penjaga tadi mendorong tubuh Daman dari belakang, seperti memaksa Daman untuk segera masuk ke dalam gerbang. Tiba-tiba ibu jari kaki Daman terantuk selot kunci pintu gerbang. “Gusti Allah nu maha Agung !” pekik Daman menahan sakit.
Seketika Safina menjerit, bersamaan dengan itu gempa mengguncang istana. Sehingga gedung megah itu bergoyang.
“Allahhu Akbar. Aya naon ieu?” pekik Daman panik.
Gempa semakin besar. Kian besar saja. Mengguncang tanah pijakan.
“Allahu Akbar… Allahu Akbar,” pekik Daman tak terkendali. Pada saat itu Daman melihat Safina menyeringai, matanya mendelik semerah saga.
“Allahhu Akbar! Allahhu Akbar!” Daman semakin ketakutan.

Dalam sekejap mata, istana itu lenyap. Dua orang gladiator tadi juga lenyap dan Safinapun lenyap, serta sado dan saisnya. Daman terperangah seraya berusaha mengumpulkan seluruh kesadarannya. Kini Daman tahu kalau dirinya tengah berdiri di tengah hutan yang amat lebat. Di puncak gunung Karang. Dari balik kabut yang mulai menipis, dia melihat kota-kota di bawahnya yang mulai di simbahi fajar pagi. Dengan di liputi ketakutan, sekuat tenaga Daman berlari turun. Terus berlari sekencangnya mencari jalan untuk melepaskan diri dari cengkraman hutan. Ia akan segera pulang, dan sembahyang. Tadi ia telah berkunjung ke istana Lawang Taji. (PUSKA TANJUNG)


.
READ MORE - LAWANG TAJI

Kamis, 05 April 2012

MASIH ADA CINTA BUAT MELATI


Kuntum Melati belum juga merekah. Masih putik dengan kelopak tertangkup rapat. Dia belum juga ranum. Tidak ada kegenitan yang meremas gemas. Tidak ada kemolekan nan seronok dengan aroma sedap hingga mengundang para kumbang untuk bertandang. Melati masih pentil. Masih mentah. Masih bau ingus. Semestinya wajah melati putih lesi tak ternoda. Seperti wajah para sufi yang tidak berani mematahkan meski sebelah sayap nyamuk kurang ajar yang tengah menghisap darah di cuping hidungnya. Seharusnya Melati masih amat suci. Atau mungkin pada hakikatnya ia masih suci, walau putiknya sudah terpetik, lalu terhempas ke dalam genangan lumpur dan terinjak kaki kekar telanjang yang dekil. Sejatinya ia seperti kuntum-kuntum kecil yang lainnya, dijaga, dipupuk, dipelihara, lalu dironce hingga menjadi hiasan jelita sanggul para pengantin rupawan.
        
READ MORE - MASIH ADA CINTA BUAT MELATI
 

Puska Tanjung Blog © 2012 | designed by Me