Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Novel. Tampilkan semua postingan

Jumat, 13 April 2012

BIANGLALA SIRCUS

PEMBUKAAN

Musik berdentang denting mengikuti langkah dua badut yang tengah mempertontonkan aksi kocaknya. Lampu sorot terus mengikuti gerak langkah keduanya. Suara tawa dan tepuk tangan penonton sesekali berderai setiap kedua badut itu melakukan tindakan bodoh yang lucu. Badut yang mengenakan baju polkadot merah dengan rambut kribo warna-warni berperan sebagai anak bodoh yang nakal. Sedang badut yang mengenakan kostum garis-garis besar hitam putih dengan topi caplin berperan sebagai anak yang sok pinter dan sombong.

Pertama si badut yang bertopi Caplin memanasi si Kribo, mempertontonkan sebuah tarian, dengan step-step terampil, mengikuti setiap dentingan musik. Si Kribo mengamati sambil sesekali mencibir. Dengan gaya bahasa pantomime, sirambut kribo menjentikan jemarinya, mengatakan dengan sombong bahwa gerakan semacam itu baginya amatlah mudah. Si topi Caplin menantangnya, meminta si Kribo membuktikan omongannya. Si Kribo tertawa setuju, sambil berjalan tersandung-sandung kesana kemari seolah tengah mempromosikan diri, bahwa ia lebih hebat dari si Caplin. Si Caplin tetap tidak yakin kalau si Kribo bakal mampu menari sepertinya. Tapi si Kribo bersikeras meyakinkan si Caplin bahwa ia bisa melakukannya lebih baik dari pada si Caplin. Kemudian si Kribo berdiri tegak penuh kepercayaan diri, seraya berulang-ulang mengempiskan perutnya. Ia mulai mempersiapkan diri. Musik dimainkan dengan irama yang sama dengan tarian si Caplin tadi. Tapi tiba-tiba si Kribo mengangkat tangan meminta musik dihentikan sejenak. Lalu ia mengambil sehelai sapu tangan dari saku bajunya yang besar. Ternyata ia harus mengelap ingusnya dulu. Terdengar bunyi broot! Ketika ia memijit hidungnya berulang-ulang. Para penonton tertawa ramai. Si rambut kribo memasukan kembali sapu tangannya ke dalam saku bajunya yang besar. Lalu ia mulai mempersiapkan dirinya lagi. Musik kembali dimainkan dan ia mulai melakukan beberapa gerakan. Namun kemudian ia kembali meminta musik dihentikan.

Si badut Caplin mencibir tak sabar. Ia menuduh si Kribo terlalu banyak alasan padahal tidak mampu menari sebagus dirinya. Si Kribo menyangkal sambil menepuk-nepuk perutnya yang buncit. Seraya menyeringai si Kribo menunggingkan pantatnya. Dan Broooot! Bunyi gas keluar. Seluruh penonton yang ada di tenda sirkus itu tertawa berderai. Si Caplin memijit hidungnya yang panjang sambil melompat-lompat jijik. Sementara si kribo tertawa terpingkal-pingkal sampai bergulingan di lantai. Kemudian dung! Si Caplin memukul kepalanya hingga membuat mata si Kribo terbelalak.

Si Caplin dengan bahasa pantomime kembali meminta si Kribo untuk segera membuktikan kemampuannya. Si Kribo dengan pongah kembali berdiri. Dadanya di busungkan, mempersiapkan dirinya lagi. Lalu ia meminta musik kembali dimainkan. Hingga kemudian derai tawa penonton riuh melihat si Kribo mempertontonkan gerak tari letoi yang amat lucu. Si Caplin tidak terima. Bukan tarian buruk seperti itu yang ia minta untuk dipertunjukan. Tapi si Kribo tidak perduli. Ia terus menari dengan gerakan seperti itu sambil tertawa. Si Caplin mengikuti kesana kemari berusaha memperingati si Kribo. Tapi si Kribo memang tak bisa dihentikan, ia terlalu asyik dengan tariannya. Akhirnya si Caplin menghalangi langkah si Kribo dengan kakinya. Si Kribo tersandung. Badannya terhuyung. Dreng….dreng… dreng… Musik mengikuti gerak huyungan si Kribo. Lalu berhenti bersamaan dengan huyungan si Kribo yang berhenti pula. Si Kribo urung terjatuh dan ia tertawa senang. Tapi kemudian dreng….dreng….dreng… Tanpa alasan si kribo terhuyung lagi dan berhenti, lalu si kribo kembali tertawa senang karena pada akhirnya ia tetap tidak jadi tersungkur. Lalu terhuyung lagi mengikuti bunyi musik, tapi kali ini tubuh si Kribo benar-benar terjatuh menimpa tubuh si Caplin. Si Kribo senang tengkurap di atas tubuh si Caplin sambil mengepak-ngepakan tangannya. Sementara si Caplin di bawah kelojotan. Tangannya berusaha untuk merenggut rambut si Kribo, tapi selalu gagal. Akhirnya. “Plak! Si Caplin menendang. Si Kribo melotot dan segera bangkit seraya memegangi selangkangannya. Dan iapun berlari terbungkuk-bungkuk menahan sakit ke belakang. Para penonton tertawa sambil bertepuk tangan. Si Caplin yang masih tertinggal di tengah arena memberi hormat penutupan pada penonton. Lalu dengan wajah kocak berlari ke belakang mengejar si Kribo.

“Itulah dia pertunjukan dua badut kami yang kocak dan menghibur. Mudah-mudahan bisa sedikit mengendurkan saraf-saraf yang tegang,” terdengar suara pembawa acara dari belakang tirai. “Mereka adalah badut- badut kami yang terbaik. Kami bangga memiliki seniman hebat seperti mereka. Dan kini kita akan lanjut pada segmen yang menegangkan. Yaitu segmen ketangkasan memanah.”

Bunyi musik drum berdebam riuh.
“Kita sambut dengan meriah, si ganteng Febrian dan si cantik Utari.”
Para penonton di tenda sirkus itu bertepuk tangan riuh. Seorang pemuda tampan yang mengenakan kostum Robin hood dan menenteng busur besar dengan selusin anak panah di punggungnya muncul menggandeng gadis cantik yang mengenakan kostum yang amat seksi. Gadis itu mengenakan bra berbulu hitam dengan cutbray hitam yang ketat, sehingga warna kulitnya yang putih bersih terlihat semakin kontras. Rambutnya yang hitam bergelombang diikat ke atas, seperti gaya rambut Jinni, hantu gadis nakal di drama komedi situasi di salah satu statsiun tv. Kedua orang itu merentangkan tangannya, membungkuk memberi hormat ke berbagai sudut.

Empat orang laki-laki keluar dari belakang tirai, menggotong sebuah papan bundar yang besar dan beberapa peralatan yang lainnya. Lalu dengan cekatan mereka memasang peralatan itu di tengah arena. Si gadis kembali membungkuk seraya merentangkan tangannya memberi hormat kepada penonton. Dengan senyum lebar dan penuh keyakinan, gadis itu menempelkan tubuhnya di bundaran papan yang sudah berdiri tegak. Keempat pria mengikat kedua kaki dan tangannya di lobang-lobang papan bundar yang sudah disediakan. Sesaat si gadis menarik napas panjang. Kemudian musik drum berbunyi riuh, bersamaan dengan berputarnya tubuh si gadis di dinding papan bundar. Makin lama putaran itu makin cepat, bersamaan dengan bunyi drum yang kian cepat pula. Hingga tubuh si gadis yang ada di permukaan papan itu hanya tampak bayangan hitam saja. Para penonton bertepuk tangan riuh. Hingga kemudian bunyi drum berhenti bersamaan dengan berhentinya putaran papan bulat itu. Si gadis yang terikat di papan kini terentang menatap ke depan sambil tersenyum. Penonton kembali bertepuk tangan memberikan applause. Suasana tiba-tiba sepi diliputi ketegangan, ketika pemuda tampan itu mulai mempersiapkan busurnya , lalu mengarahkan panahnya pada si gadis. Semua penonton menahan nafas ngeri. Beberapa penonton wanita tidak tahan, dan memalingkan wajahnya sambil menutupi mata anak-anaknya.

Tak ada musik yang mengiringi pertunjukan ini. Pemuda tampan itu berkonsentrasi penuh. Matanya menyipit, lalu, jap! Panah melesat dan menancap hanya dua senti di atas kepala si gadis. Penonton bertepuk tangan, seraya mengendurkan urat saraf sesaat. Keadaan kembali menyepi, pemuda tampan itu kembali memasang sebilah panah di busurnya. Lalu bersiap lagi. Kali ini sasarannya adalah sebelah kiri kepala si gadis. Semua penonton menatap diliputi ketegangan. Dan, jap! Panah kembali melesat, si gadis tersenyum lebar. Anak panah itu menancap pas di samping cuping kupingnya. Ini tontonan yang benar-benar menguras ketegangan. Hampir sepuluh panah sudah menancap mengitari tubuh si gadis. Seluruh penonton bertepuk tangan riuh penuh kekaguman pada ketangkasan si pemanah dan keberanian si gadis menantang maut. Kini tinggal ada dua anak panah lagi yang tersisa di punggung si pemuda. Dan ia kembali merentangkan busurnya. Sekarang sasarannya sebelah kiri bawah ketiak si gadis. Para penonton kembali menahan nafas. Sepasang mata mengintip di balik tirai belakang. Ia tampak komat-kamit membaca doa. Si pemuda kembali melesatkan anak panahnya. Bersamaan dengan itu di luar penglihatan mata telanjang manusia, sebuah bayangan hitam ikut melesat dari balik tirai belakang, ikut bersama dengan lesatan anak panah. Dan, jap! Mata si gadis terbelalak. Tiba-tiba para penonton berteriak histeri. Anak panah itu melesat dan menancap pas di dada kiri si gadis. Darah menetes ke bawah. Seketika keadaan di dalam tenda itu menjadi hiruk pikuk. Sang pemanah terpaku setengah tak percaya. Beberapa pria membuka ikatan tangan dan kaki si gadis dengan tergesa. Lalu menggotong tubuh molek itu ke balik tirai. Sebilah anak panah masih menancap di dadanya, dan ceceran darah segar tertinggal di lantai arena. Para penonton bubar. Sang pemanah jitu tampak sock. Ia terkulai di lantai dengan lutut gemetaran. Dua badut kocak segera menggandengnya ke belakang.

“Tidak boleh ada yang mencabut panahnya. Biar dokter yang melakukannya. Sekarang kita harus segera melarikannya ke rumah sakit,” kata pria setengah baya dengan rambut panjang diikat ke belakang. Mereka memasukan gadis itu ke dalam mobil ambulan milik sirkus. Dua badut kocak, dan pemuda pemanah jitu melompat ikut masuk ke dalam. Sementara seorang pria berpenampilan gotik hanya berdiri terpaku, matanya menatap dingin. Mobil ambulan melaju cepat dengan sirenenya yang meraung-raung membelah para penonton yang menyemut keluar dari tenda sircus. Wajah-wajah mereka masih diliputi kengerian sambil saling menceritakan tentang kejadian tragis tadi.




READ MORE - BIANGLALA SIRCUS

LUDI SANG MEDIUM CILIK

PEMBUKAAN

Malam itu malam akhir pekan yang mencekam. Hujan turun membadai, airnya seperti ditumpahkan dari langit. Kilat berulang-ulang menyambar, membelah angkasa kelam. Diikuti bunyi gelegar geledek yang menggetarkan bumi. Tiupan angin menggila, mengibaskan air hujan, membuat pepohonan merunduk, sebagian dahannya berderak patah. Seluruh penerangan listrik tiba-tiba padam. Membuat wajah kota tertelan gulita.

Di jalanan yang sunyi dan kelam. Di tengah hujan badai yang mendera. Sebuah mobil sedan berjalan merayap. Lampunya tampak redup dihadang lebatnya guyuran air hujan. Seorang pria yang duduk di balik kemudi tampak sangat hati-hati mengendalikan setir. Beberapa kali mobil terguncang, karena melewati jalanan berlobang yang digenangi air. Seorang pria setengah baya yang mengenakan mantel biru dengan shal wol kuning meliliti lehernya duduk di samping sopir sambil melipatkan kedua tangan di dadanya. Dari radio mobil terdengar suara reporter mengabarkan berita tentang cuaca yang kian memburuk.

“Tadi pagi saya sudah mendengar berita perkiraan cuaca di tivi, bahwa akan ada badai malam ini. Tapi saya tidak mengira akan sehebat ini,” kata sang sopir sambil terus mengawasi permukaan jalan didepannya. Air hujan lebat menampar-nampar kaca mobil, memburamkan jarak pandang. Wiper yang bergerak-gerak mengibas air dipermukaan kaca, sama sekali tak banyak berpengaruh.Lelaki bermantel biru hanya mendesah.

Sementara istrinya yang duduk di jok belakang, sedari tadi tidak berhenti mengomel. Seolah badai hujan yang menggila sama sekali tidak mempengaruhinya. Anak gadis kecilnya yang berusia sembilan tahun tak henti-hentinya merengek sambil mencubiti tangan ibunya.
“Mami sih, Nola pengen banget tahu baju balon itu. Temen-temen Nola sudah pada punya baju yang kaya begitu. Pokoknya Nola pengen dibeliin baju yang kaya begitu, titik.”
“Sudah jangan nyubitin mami terus, sakit tahu!” ibunya menghardik. “Kamu pikir cuma kamu yang sebel hah? Mami juga sebel. Mami tadi belum selesai belanja bulanan. Masih banyak yang harus mami beli. Bapak kamu sih, sedari tadi ngedumel terus ngajak pulang. Kalau belanja bareng laki-laki begitu, rese.”
“Sudahlah mami, maafin papi. Nanti kapan-kapan kita ke mall lagi belanja,” kata laki-laki bermantel biru.
“Kapan-kapan kapan? Minggu depan?”
“boleh. Minggu depan ngga jadi masalah.”
“Tapi kan mami belum ke salon. Seharusnya hari ini mami cuci rambut, gunting rambut, cuci muka. Nih tampang udah ngga karuan.”
“Kata siapa? Mami masih tetap cantik kok,” rayu suaminya sabar.
Wanita itu cemberut

Aditya, pemuda kecil berusia dua belas tahunan yang duduk di samping adik perempuannya, sedari tadi hanya terdiam. Kelihatannya dia amat tertekan mendengar ocehan ibunya dan rengekan adik perempuannya. Matanya tak henti mengawasi ke luar jendela mobil. Tatapannya di liputi kengerian. Ia bergidik, melihat pepohonan yang meliuk-liuk dihempas angin. Suaranya menderu-deru seperti lenguhan monster kelaparan.

Mobil itu terus merayap membelah hujan.
“mami juga tadi belum sempat beli baju,” wanita itu kembali menggerutu.
“Bukannya tadi mami udah beli?” tanya suaminya.
“Baju atasannya doang, belum beli bawahannya. Besokkan ada acara arisan bulanan temen-temen mami, Masa mami ngga pake baju baru.”
Lelaki bermantel biru menghela nafas kesal. “Masa setiap arisan harus pake baju baru sih mam,” keluhnya.
“Ia dong, masa istrinya pak Permadi, pemilik pabrik kopi, orang terkaya di kota ini ngga mampu beli pakaian sebulan sekali. Yang malu siapa? Papi kan?”
“Iya maafin papi, habis tadi ada telephon dari pabrik. Ada masalah serius dengan ketel besar, jadi malam ini juga papi harus segera ke sana.”

Tak terasa mobil sudah sampai di halaman rumah besar. Seorang satpam yang mengenakan jas hujan keluar dari gardu, dan berlari di bawah guyuran hujan yang lebat. Dengan tergesa mendorong pintu pagar besi hingga terbuka lebar. Mobil melaju masuk, dan satpam bermantel hujan kembali menutup pintu gerbang. Di pelataran rumah mobil berhenti. Sang nyonya rumah yang masih saja menggerutu keluar diikuti anak gadisnya. Ia berteriak-teriak memanggil para pembantunya. Dua orang wanita kampung datang tergopoh-gopoh.

“Ambil semua belanjaan di mobil,” perintah wanita itu sambil terus masuk ke dalam dengan dada mendongak ke depan.
Sopir menurunkan semua bungkusan belanjaan yang memenuhi bagasi.
Aditya, pemuda kecil yang sedari tadi hanya terdiam, sebelum turun dari mobil berpaling pada ayahnya, “Ayah akan kembali ke pabrik?” tanyanya.
“Iya nak. Salah satu ketel besar kita di pabrik bermasalah.”
Anak itu berdiri menatap ayahnya khawatir. “Hati-hati di jalan ayah, badai hujannya besar sekali.”
“Makasih nak, sudah mengkhawatirkan ayah.”

Aditya masuk kedalam rumah dengan kepala tertunduk. Sesekali ia berpaling pada ayahnya. Dia amat khawatir dengan badai yang terjadi di luar sana. Sungguh, keluar rumah dalam cuaca seburuk ini amat tidak aman.

Setelah semua belanjaan selesai dikeluarkan, dan dua pembantu sudah mengangkutinya ke dalam, sopir segera menutup bagasi. Lalu ia kembali masuk ke dalam mobil. Sejenak ia berpaling pada laki-laki bermantel biru yang masih duduk di sampingnya, “Kita kembali ke pabrik sekarang pak?” tanyanya.
“Ia. Anak-anak pasti sudah menunggu di sana. Aku harus tahu sekarang juga, apanya sih yang bermasalah dengan ketel itu? Karena besok ketel itu harus normal kembali.”
Pak sopir menstater mobilnya. Satpam yang mengenakan jas hujan, begitu melihat mobil melaju akan keluar kembali, dengan cepat berlari keluar gardu dan membukakan pintu gerbang . Mobil itu kembali merayap keluar membelah hujan.

“Itulah wanita. Sangat memuakkan,” keluh lelaki bermantel biru setelah agak jauh meninggalkan rumah.
Sopirnya hanya terdiam. Ini keluhan pak Permadi yang keseratus kalinya mengenai istrinya.
“Dulu ibunya Aditya, tidak seperti ini. Istriku yang sekarang ini sangat luar biasa. Banyak keinginan dan selalu menuntut.”
Si sopir tidak memberikan komentar apapun. Karena dia mengerti tuannya tidak membutuhkan dirinya berkomentar. Ia hanya sedang menumpahkan kekesalan.
Di luar badai hujan semakin menggila. Si sopir berkosentrasi mengawasi punggung jalan yang akan mereka lalui. Beberapa kali sambaran kilat menyilaukan mata, diikuti bunyi gelegar yang menggetarkan dada. Tiupan angin kian menggila membuat guyuran air hujan dan dahan-dahan pepohonan meliuk-liuk.


Duar!
Tiba-tiba suara kilat menggelegar keras, menyambar sebuah pohon kelapa besar yang berdiri di pinggir jalan di depan mobil mereka. Pijaran api merambat cepat dari pangkal pohon.“Awas!!” teriak lelaki bermantel biru dengan wajah pucat. Sopirnya ternganga panik. Dan kreeek..Bum!! Pohon itu jatuh membal, batangnya menimpa badan mobil hingga remuk. Dua orang yang berada di dalamnya tak sempat menyelamatkan diri. Percikan api keluar dari tubuh mobil bersamaan dengan asap yang mengepul. Secara perlahan lampu mobilpun padam. Darah merah mengalir dari bawah bangkai mobil terbawa air hujan.

Setelah amukan badai hujan berhenti. Dan alam mulai tenang. Di kekelaman malam yang menghitam. Di keheningan alam yang mencekam. Di antara bunyi tetesan air yang jatuh dari ujung dedaunan. Dua roh keluar dari bangkai mobil yang terjepit pohon kelapa besar. Keduanya melayang secara perlahan ke udara. Terus melayang ke atas, seperti dua buah balon gas. Tiba-tiba seberkas cahaya putih yang muncul dari langit menyedot keduanya ke dalam pusarannya. Setelah kedua arwah itu tertelan, cahaya putih itu membias dan menghilang. Kedua arwah itu telah dibawa ke alam lain. Yaitu alam kegaiban Tuhan.






READ MORE - LUDI SANG MEDIUM CILIK

Rabu, 11 April 2012

BUSANA JIWA

BAB 1

Remasan-remasan kertas coretan sketsa menumpuk di keranjang sampah di samping kakinya. Tapi ia masih mengambil kertas yang lainnya dan menggambar lagi. Meski tidak ada satupun yang diselesaikannya. Sebenarnya ia sedang tidak berminat menggambar. Pemuda itu sedang sedih. Ia merasa ketulusan dan perhatiannya tak terbalaskan. Sejak tadi pagi hingga siang hari ini, tak ada sepatah katapun ucapan mengharukan diberikan kepadanya. Kini ia merasa menjadi orang yang terlupakan dan tidak diperdulikan.

Akhirnya Boyke bosan menggambar, lalu menyandarkan punggungnya dalam kursi di balik meja kerjanya. Ujung matanya mencuri pandang pada Devi, asisten pribadinya yang duduk berjarakan hanya beberapa meter saja. Ia gadis yang paling dekat dengannya. Biasanya ia tidak pernah melupakan hari jadi Boyke. Setiap tanggal itu datang, ia selalu memberikan hadiah kecil yang manis atau setidaknya sebuah ucapan. Tapi kini Devi sudah melupakannya dan duduk tenang-tenang saja. Seperti hari-hari biasanya.

Boyke berputar-putar dengan kursinya, berusaha mencari perhatian. Ia ingin Devi menangkap kegundahannya. Namun gadis itu hanya sekilas mengintip di balik kaca mata tebalnya. Lalu menekuni kesibukannya lagi. Betul-betul menyebalkan.

Waktu istirahat siang telah tiba.
Ketika Devi melaporkan hasil kerjanya ke meja Boyke, dan berpamit untuk keluar ruangan, dengan cepat Boyke bertanya. “Apa kamu tidak ingat sesuatu?”
“Soal apa tuh..?”
“Kamu sudah lupa? Atau sengaja melupakannya?” sinis Boyke.
“Aku sama sekali tidak tahu. Sungguh. Apaan sich?”
“Ya sudah kalau tidak ingat, pergi dech sana. Sebel!!” ketus Boyke geram. Ia amat kesal dan kecewa.
Devi hanya mengangkat bahu sejenak, heran. Lalu pergi.

Kini Boyke duduk termenung sendirian di ruang kantornya yang asri. Wajahnya tertopang di bibir meja yang terbuat dari kayu jati mengkilat dialasi kaca tebal. Di hadapannya ada seperangkat sopa warna ceria untuk menerima para tamu. Boyke melupakan kesedihannya dengan mengawasi seluruh ruang kantornya. Bagian dari kebanggaan hasil kerja keras. Poto-poto dokumentasi hasil karyanya yang dikenakan para model terkenal dan juga ratu dunia dan ratu sejagat, terpampang demikian apik di dinding. Juga deretan-deretan gaun koleksinya. Kemudian matanya berpaling pada sebuah photo kecil berbingkai yang berdiri manis di atas mejanya. Dia tersenyum. Diraihnya photo itu dan di awasi lama sekali. Potret masa kecil Boyke bersama Phopy, kakak perempuannya. Kisah masa lalu yang sangat berarti dan juga bukti bahwa sesungguhnya ia punya keluarga.

Pada hakikatnya Boyke adalah seorang desainer fashion sejati dan memiliki naluri bisnis yang mapan. Manusia yang suka bekerja keras dan seorang bos yang sangat memperhatikan karyawannya. Di dunia desainer, namanya cukup diperhitungkan dan menduduki kelas papan atas. Boyke telah menggenggam kesuksesan dengan memiliki rumah mode yang besar dan beberapa cabang salon kecantikan. Tapi dia bukan pemuda tangguh yang mampu membuat para gadis tergila-gila padanya. Ketampanan yang dimilikinya sama sekali tak berguna. Prilakunya yang cenderung feminim, bagai gemerencing kecrek para tukang patri.

Kini usianya sudah dipertengahan tiga puluhan. Akankah selamanya ia hidup sendiri? Boyke ngeri membayangkan masa depan pribadinya. Ia terperangkap dalam dua muara yang menariknya dengan kekuatan yang sama. Hingga saat ini, ia tidak mampu memutuskan, dimuara manakan ia harus menambatkan dirinya?

Haruskah ia memilih seorang pria untuk dijadikan suami? Karena hanya seorang prialah yang menjadi impian pasangan hidupnya. Hal itu sering ia coba dan lakukan. Ia sudah bercinta dengan banyak pria, tapi nalurinya berkata lain. Ia tidak hanya membutuhkan sek. Ia ingin total menjadi wanita. Namun ketika dihadapkan pada pilihannya yang terkuat, Boyke menjadi ketakutan. Ia membayangkan dirinya berdiri di taman Lawang dalam busana malam yang sangat indah. Ia tidak akan membiarkan dirinya sakit dan menjadi badut. Boyke tidak berani berspekulasi dengan dorongan hati nuraninya. Ia telah memiliki reputasi dan karier yang cemerlang. Sebuah sumur telah digali dengan susah payah. Air jernih telah ditemukan. Boyke tidak boleh menimbunnya lagi hanya karena menuruti nalurinya untuk menjadi wanita. Lagi pula ia masih berharap suatu saat bisa pulang dan berkumpul kembali dengan keluarganya.

Akankah ia meminang seorang gadis dan menjadikannya sebagai istri? Itu yang terbaik. Ayahnya akan meminta maaf, menyesal telah berlaku buruk padanya. Ia akan berada dalam lingkungan mesra keluarganya lagi. Boyke akan diraih dan tidak lagi diasingkan dan dituding sebagai penentang alam. Tapi ia sama sekali tidak berminat. Bagi Boyke, wanita adalah makhluk indah yang sama sekali tidak membangkitkan gairah.

Pengalaman pertamanya dan satu-satunya dalam hidup Boyke berkencan dengan makhluk yang namanya wanita, terjadi ketika ia berusia dua puluh lima tahun. Saat itu ia sedang prustasi karena kehilangan Randy, cinta pertamanya. Ini berawal dari kekhawatiran ayahnya yang semakin menyadari kondisi Boyke. Ia demikian bersemangat untuk membuktikan pada masyarakat bahwa anaknya adalah laki-laki sejati dan bukan seonggok aib yang memalukan. Di suatu hari ayahnya memperkenalkan Wida, putri bawahannya. Menurut Boyke gadis itu sangat pemalu dan canggung. Rambutnya panjang, dikepang dua dan mengenakan gaun midi bermotip bunga. Ketika berjabatan tangan, ia nyaris tidak memperlihatkan wajahnya. Ayahnya mengatakan, gadis seperti Widalah calon istri yang terbaik buat Boyke. Betapa ayah Boyke menyanjung gadis itu tak terhingga. Boyke mengerti, itu artinya adalah sebuah penekanan, di mana ia tidak boleh menolaknya.

Ayahnya telah mengatur dan merencanakan siasat.
Seminggu kemudian, di akhir pekan, ayahnya menyuruh Boyke berkunjung ke rumah Wida untuk mengajak gadis itu berkencan. Sejujurnya Boyke tidak berminat, tapi ia harus melakukannya. Malam itu mereka nonton di teatre sineplek. Wida adalah teman yang paling membosankan. Ia kurang percaya diri dan selalu takut melakukan kesalahan. Kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa dihitung dengan jari. Itupun suaranya sangat pelan dan nyaris tak terdengar. Boyke percaya pada keluguan Wida. Kata ayahnya, Wida gadis yang amat penurut. Dia tipe anak rumahan. Tidak pernah bergaul keluyuran tak karuan seperti gadis-gadis pada umumnya. Hari-harinya dihabiskan untuk belajar dan membantu ibunya. Sesekali ke mall, itupun harus dengan ibunya.

Tetapi betapa mengejutkan dan membuat darah Boyke berhenti seketika, di saat mengantarkan gadis itu pulang. Sebelum turun dari mobil, Wida menyerbunya dengan ciuman hangat. Dalam detik yang sangat cepat itu, Boyke terperangah. Ia merasakan lidah gadis itu masuk ke dalam mulutnya dan mencium deru nafasnya yang memburu. Wida berusaha membangkitkan lidah api dan membakarnya. Boyke melemaskan diri dan membiarkan semua itu berlangsung. Kini ia mulai membayangkan gadis itu menjadi istrinya. Mereka berdua tengah bercinta di atas ranjang pengantin penuh bunga dengan aroma wangi melati, di malam pertama pernikahan. Wida mengenakan baju pengantin dodot hingga payudaranya yang mulus menyembul separuh. Boyke memacu khayalannya dan membiarkan gadis itu menyusuri tubuhnya mencari bagian-bagian erotik. Ketika tangan kecil itu membuka resleting celananya dan menemukan bagian tubuhnya yang paling sensitif, saat itu Boyke berteriak dan mendorong tubuh Wida, hingga gadis itu terjerembab ke belakang.“Hentikan! Kamu tidak menemukan pasangan yang tepat.”

Seketika impian ranjang pengantin penuh bunga melati buyar. Boyke menangis tersedu-sedu, menyadari apa yang telah diangan-angankan ayahnya tidak akan pernah terwujud. Sejak itu ia tidak lagi berpikir untuk memiliki istri. Perkawinan bukan diperuntukan bagi dirinya.

Kini di saat ia telah menjadi desainer terkenal, memiliki rumah Mode dan beberapa cabang salon kecantikan, ia diliputi rasa puas dan kebanggaan berlipat ganda. Boyke tidak lagi takut menderita sendirian. Ia menganggap seluruh karyawannya adalah saudaranya sendiri. Ia menyayangi dan menginginkan yang terbaik buat mereka. Walaupun dia tahu karyawannya sering mempergunjingkan dirinya di belakang, setelah Boyke berteriak mengomeli mereka yang melakukan pekerjaan ceroboh. Mereka menertawakan dan mengolok-ngolok Boyke. Memperagakan cara berjalannya yang gemulai dan logat bicaranya dengan memperkecil pita suara. Mereka menjuluki Boyke dengan panggilan tante Mince. Boyke tahu dan menyadari semua itu, meski tak ada yang pernah berani melakukan kekurang ajarannya di hadapan Boyke secara langsung. Pun begitu Boyke sering memergokinya. Tapi itu bukan masalah. Boyke hanya berharap suatu saat mereka semua menyadari, apapun yang ia lakukan adalah untuk kebaikan.

Walaupun pada dasarnya ia seorang pemimpin utama. Pemegang saham tunggal. Tapi Boyke tidak pernah bersikap seperti seorang bos. Ia hanya ingin menjadi pelindung dan sahabat. Pagar batasan kedudukan itu tidak akan pernah ada. Meskipun ia tukang berteriak, ia tidak ingin menjadi sebuah momok yang menakutkan. Di hormati karena rasa takut, adalah kesalahan besar. Itu jalinan hubungan yang amat kering.

Tak ada yang lebih tahu dari Boyke, sejauh mana ia memperhatikan kesejahtraan karyawannya. Boyke lebih suka menyebutnya para sahabat, atau bahkan saudaranya. Ia tidak akan membiarkan Bety, si tukang pasang kancing dan manik-manik, menangis sendiri di rumah sakit setelah mengalami keguguran anak pertamanya. Boyke menyisihkan waktu untuk menjenguk dan menghiburnya. Bety yang sangat kecewa menangis dalam pelukannya menumpahkan seluruh kesedihan.

Masalah besar.
Boyke termangu beberapa menit, ketika masuk ke ruang produksi dan melihat kerumunan. Boyke menyeruak ingin tahu apa yang tengah terjadi. Wajah-wajah karyawannya tampak panik dan ketakutan.
“Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan gadis ini? Kenapa dia?” pekik Boyke.
Tubuh Yola si tukang pola yang selalu berpenampilan nyentrik dengan topi baret merahnya, terkulai di pangkuan Udin si tukang jahit. Warna kulit gadis kerempeng itu seperti buah kukuk. Pucat kehijau-hijauan.
“Diran lagi manggil taksi, sebentar lagi pasti datang,” ujar salah satu karyawan Boyke.
“Dia tidak boleh terlambat, ayo segera bawa ke mobilku,” Boyke menukas dengan cepat. Saat itu Boyke meluncurkan mobilnya menuju rumah sakit seperti orang gila. Ia tidak tahu penyakit apa yang diderita Yola. Kelihatannya ini sangat serius. Boyke diserang rasa putus asa, takut tidak bisa menyelamatkan nyawa Yola. Wajah gadis kerempeng itu seperti tengah menuju gerbang maut.

Udin memeluk Yola. Di sepanjang perjalanan ia tidak pernah berhenti berdoa dan membisikan kalimah Tuhan di kuping Yola.
“Kamu akan selamat Yola, bertahanlah! Bertahanlah!” Boyke menggenggam tangan kecil Yola, seolah ingin memberikan kekuatan. Sepasukan perawat berseragam putih, dengan sigap membawa Yola dengan kereta dorong menuju ruang gawat darurat.
Setengah jam kemudian, seorang dokter keluar.
“Anda saudaranya?” tanya dokter itu dengan mata menyelidik.
“Ya saya saudaranya,” jawab Boyke tegas.
“Anda kurang memperhatikan pergaulannya, ia telah menenggak butiran ekstasy dan kelebihan dosis.”

Boyke ternganga dan tak mampu berkata-kata. Dari semula ia sudah menduga. Karena menurutnya Yola termasuk gadis yang agak bebas. Dari berbagai informasi Boyke segera mengetahui kalau selama ini Yola nyaris menghabiskan sebagian gajinya untuk obat-obat terlarang, mariyuana dan minuman keras. Boyke sangat sedih. Belakangan ia mengetahui , kalau Yola sudah lama terseret pergaulan bebas. Memerlukan waktu yang lama untuk membuat Yola sembuh dari ketergantungannya. Tapi Boyke berjanji dalam hati untuk membawa gadis itu ke dunia yang lebih sehat. Walau dia sadar itu bukan persoalan ringan.

Boyke bekerja keras memajukan perusahaan dan memikirkan kesejahteraan karyawannya. Ia ingin semuanya bahagia. Tak terkecuali Diran si tukang sapu, yang agak bodoh dan lamban. Ketika ia bercerita akan menikah, Boyke menghadiahkan sebuah gaun pengantin dari koleksi lamanya. Meski Boyke harus kecewa, di saat pesta itu berlangsung, istri Diran tidak mengenakan gaun itu.

Boyke merasa tersinggung. Diran tidak menghargai pemberiannya. Di tengah kemeriahan pesta yang diselenggarakan di rumah kecil milik keluarga istri Diran, ia menyeret laki-laki itu ke tempat yang sunyi dan mempertanyakannya.
“Gaun itu terlalu bagus mas Boy, tidak pantas dikenakan di pesta seperti ini.”
“Lalu…?” tatapan Boyke mengungkap kekesalan.
Diran tergagap diliputi ketakutan. Tangannya gemetaran dan berkeringat. “Gaun itu sudah saya jual, Maafkan saya mas Boy…”
“Dijual..?” Boyke mendelik.
“Iya mas Boy, harganya cukup lumayan untuk tambah uang muka kredit rumah.”
Saat itu Boyke mengerti, ia telah melupakan sesuatu hal. Karyawannya perlu tempat tinggal. Dia harus memikirkannya.

Jarum jam menunjukan pukul dua belas lewat dua puluh menit. Waktunya makan siang. Seperti biasa para karyawannya pasti tengah makan siang di capetaria belakang gedung. Ia tidak mau memikirkannya. Semula Boyke mengira mereka saudaranya dan tak akan melupakannya. Tapi ternyata perkiraannya itu salah. Mereka bekerja hanya untuk uang. Bukan untuk menjalin persaudaraan.

Ini hari ulang tahunnya. Ketika tadi pagi dia berangkat dari rumah, Boyke membayangkan bakal ada kue tart dan lilin dan lagu happy birtday menyambut kedatangnnya. Atau setidaknya hanya ucapan dan jabat tangan saja. Namun hingga kini tak ada seorangpun yang menyinggung hari jadinya. Tak ada yang berkata sepatah katapun tentang ulang tahunnya.

Di saat Devi tadi menyerahkan berkas, Boyke tergoda untuk mengatakan bahwa hari ini ia berulang tahun. Tetapi apa gunanya? Benar-benar keterlaluan kalau kita mengingatkan orang bahwa kita berulang tahun. Sejak dari kecil, Boyke tak pernah melewatkan hari ulang tahunnya tanpa ucapan. Kini ia merasa sendiri dan terpencil. Boyke sadar, bahwa ia iba pada dirinya sendiri. Ia tidak boleh menangisi tiadanya peringatan ulang tahun sekarang ini. Belajarlah membiasakan diri. Ini mungkin awal dari kesunyian panjang hidupnya.

Pintu kantornya terbuka. Boyke sudah tahu itu pasti Diran yang datang. Seperti biasa ia akan menanyakan makan siangnya. Mau makan apa? Diantar atau tidak? Boyke sama sekali tidak lapar. Tetapi betapa kagetnya ia melihat Diran berjalan tergopoh-gopoh mendekatinya. Wajahnya pucat pasi.
“Mas Boy, ruang produksi kebakaran,” ujarnya tergagap.
Boyke bagai disengat kalajengking. Ia melompat dan berlari tunggang langgang ke belakang. “Matikan semua listriknya! Matikan listrik!” teriaknya seperti orang gila.

Dalam larinya ia melihat gaun-gaun hasil kreasinya dijilati lidah api. Tak ada lagi yang tersisa. Mesin-mesin jahit, bahan-bahan tekstil, meja, kursi, semuanya telah menjadi bara dan abu. Asap tebal menenggelamkan dirinya dalam ketakutan yang tak terperi.

Brak! Pintu ruang produksi dibuka dengan kasar. Boyke berdiri mengangkang di ambangnya dengan lutut bergetar. Ia melihat kegelapan yang sangat pekat. Mana apinya? Ia tidak melihat asap dan bara. Tak terdengar bunyi derak api, selain kesunyian dalam gelap yang mencekam.

Ini sebuah permainan.
Lampu di dalam ruangan tiba-tiba menyala. Refleks Boyke menunduk untuk melindungi tubuhnya, ia merasakan kematian tengah mencengkram dirinya.
“Mas Boy, selamat ulang tahun,” itu suara Yola.
“Happy brithday……… Happy brethday…….”
Mata Boyke sejenak silau kena cahaya lampu. Tapi ia segera melihat kenyataan yang mengejutkan. Para karyawannya berderet mengelilingi sebuah meja. Ada lagu ulang tahun yang dinyanyikan secara serempak. Ada kue tart, dan Devi tengah menyalakan lilin-lilinnya.

Boyke terpana, tidak percaya akan mendapat kejutan indah. Tak terasa bola matanya memanas. Sesaat ia merasa bersalah telah berperasangka buruk. Padahal mereka demikian memperhatikannya.
Sebelum meniup lilin, Boyke menyempatkan diri berpaling pada Diran. “Thanks Bob, ternyata yey berbakat jadi aktor.”
Diran tersipu malu-malu.

Pesta sederhana dan dadakan itu terasa sangat meriah dan sempurna. Ruang produksi telah disulap menjadi lantai diskotik mungil. Suara musik keras menggema. Semua bersuka ria. Devi yang terkenal kaku dipaksa untuk berjoged, dan melepaskan kaca mata tebalnya. Ada beberapa krat bir, sprit, coca-cola dan makanan ringan.
“Mas Boy, ada telephon,” resepsionisnya datang tergesa-gesa
Tapi Boyke tidak berminat. Ia tengah bersenang-senang dan tidak ingin diganggu. Ia menyuruh Devi untuk menanganinya. Boyke menghabiskan beberapa kaleng bir dan hampir mabuk. Ia tak henti bercaca dan berdansa. Liukan tubuhnya laksana seekor ular, gemulai melebihi kelembutan seorang wanita. Ia penari yang sangat berbakat.
“Telephon dari siapa?” tanya Boyke, ketika Devi kembali bergabung dalam arena pesta.
“Dari Marina.”
“Apa katanya?”
“Dia menanyakan gaun pesanannya, dan akan mengambilnya jam empat sore ini.”
“Apa?!” teriak Boyke kaget. “Dia tidak bisa mengambilnya sekarang, gaun itu belum saya cek. Pokoknya belum bisa,” ujarnya panik.
“Tapi kemarin kan kamu ngomong kalau gaun itu sudah selesai, dan seratus persen siap pakai.”

Boyke tidak perduli, ada sebuah dorongan yang membuatnya gelisah. “Kenapa tadi kamu tidak nanya dulu, Sekarang hubungi lagi Marina, katakan pada dia kalau gaun pesanannya baru bisa diambil besok.”
“Aku ngga bisa, aku sudah menyetujuinya tadi. Lagi pula seperti ngga tahu saja, Marina itu kaya apa.”
“Kamu pasti tahu cara membereskan masalah ini,” Boyke memberikan handphonnya. Devi memijit beberapa nomor dengan wajah kecut.
READ MORE - BUSANA JIWA

Minggu, 08 April 2012

PIANIS

BAB 1
Cuaca sore di lembah bunga puncak Ciawi terasa sejuk sekaligus hangat. Tadi pagi gerimis turun menyirami pucuk-pucuk daun teh yang menghijau, kini matahari bersinar cerah menyapu kelembaban kelopak-kelopak bunga dengan kelembutan angin semilir. September merupakan bulan seimbang antara curah hujan dan matahari.

Beberapa pekerja terlihat sibuk memanen berbagai jenis bunga diperkebunan yang dipayungi jaring penahan sinar matahari. Juga di perut rumah-rumah kaca besar yang dibangun berjajar di ujung lembah. Lalu mereka membawa bunga-bunga itu ke gudang yang terletak di samping rumah besar. Rumah sang juragan perkebunan. Di sana terdapat beberapa pekerja wanita yang bertugas menyortil sekaligus mengemas bunga-bunga itu dengan kertas cantik. Di sudut gudang ada sekelompok gadis muda yang tengah asyik meronce putik-putik bunga melati mungil dengan trampil sambil bergosip. Mereka membuat penghias sanggul pengantin, Ronce pemanis dekorasi pelaminan, juga penutup bahu untuk ritual siraman. Lalu hasil roncean itu akan dikemas dengan hati-hati dan dimasukan ke dalam lemari pendingin supaya tetap segar. Dini hari nanti bunga-bunga itu akan dibawa ke Jakarta, memenuhi permintaan toko-toko bunga dan juga tukang rias langganan.

Topik bahasan para gadis sore ini berkutat seputar Ananda, putri pak Waldiono, salah satu buruh di perkebunan bunga ini. Ananda memang sedang menjadi buah bibir. Tidak hanya di perkebunan, bahkan hampir di setiap penjuru wilayah tempat Ananda tinggal. Penampilannya yang memukau di salah satu statsiun tivi telah membuat orang-orang tercengang. Bagaimana mungkin anak seorang buruh miskin bisa memainkan musik shimponi sedemikian indah?

Tentu saja semua itu berkat kemurahan hati pak Kuswanda Natakusuma, juragan besar perkebunan bunga.
Beberapa gadis dengan tulus mengungkapkan kekagumannya pada Ananda. Tapi ada juga sebagian yang menanggapinya sinis penuh dengan kedengkian. Meskipun demikian tak ada yang bisa menyangkal kalau Ananda memang gadis yang sangat beruntung. Walaupun ia berasal dari keluarga miskin, tapi Tuhan telah menganugrahi gadis remaja itu, kecantikan dan talenta yang luar biasa. Khususnya dibidang musik. Hal itulah yang membuat seluruh keluarga Kuswanda Natakusuma jatuh cinta padanya. Jika kemudian mereka membiayai sekolah Ananda dan mendatangkan guru les piano ke rumahnya dengan bayaran yang cukup mahal, semua itu dilakukan karena semata-mata mereka tahu, pengorbanannya tidak akan sia-sia. Bakat besar yang dimiliki Ananda merupakan jaminan yang tak terbantahkan. Pak Kuswanda mulai menyadari kelebihan Ananda, ketika gadis itu duduk di bangku kelas tiga SD.

Semua itu bermula dari ketertarikan dan keberanian seorang bocah kecil.
Ananda dibesarkan di sebuah lingkungan perkampungan kecil, yang terletak di balik bukit perkebunan bunga. Di mana masyarakatnya sebagian besar berpropesi sebagai pencocok tanam atau buruh tani. Rumah-rumah di perkampungan itu berjajar dan berdesakan di sepanjang jalan desa yang beraspal tipis dengan pagar-pagar bambu yang sengaja dicat seragam. Ada sebagian rumah tembok sederhana tapi ada juga yang masih berdinding bilik bambu. Di samping itu masih tersisa satu dua rumah panggung tradisional yang berkolong dengan atap daun rumbia. Namun demikian setiap rumah seakan dihidupkan dengan aneka tanaman bunga di pelataran. Mereka menanam ros, anggrek, krisan dengan aneka warna bunga yang menyegarkan mata. Iklim yang sejuk secara geografis telah membuat bunga-bunga itu tumbuh subur. Got-got saluran air buangan yang terbuka di sepanjang pinggir dua ruas jalan sama sekali tidak menebarkan bau. Kebersihan di perkampung kecil ini dijaga penuh. Para pria bergotong royong membersihkan kampung setiap dua minggu sekali secara berkala, sementara para ibu sibuk menyediakan makanan. Warga di sini sudah terbiasa saling bahu membahu membersihkan dan memperindah kawasan tempat tinggalnya. Ini adalah kampung percontohan. Langganan penghargaan hampir di setiap tahun. Penduduknya bangga akan hal itu.

Keluarga Ananda sendiri tinggal di sebuah rumah kecil berdinding tembok setengah badan. Berdesakan dengan rumah-rumah yang lainnya. Sebagian dinding rumah ke atas terbuat dari bilik bambu yang di cat kapur. Sehingga kalau kita bersandar, kapur-kapur itu akan menempel mengotori kulit. Rumah itu sendiri adalah warisan dari orang tua Sutina, ibunya Ananda. Pada hakikatnya Sutina merupakan pribumi di kampung itu. Ibunya, neneknya, kakek piutnya semuanya tinggal dan mati di sini. Konon seratus tahun yang lalu, kakek piut Anandalah yang membuka hutan perawan itu menjadi tempat pemukiman keluarga. Tak heran jika hampir seluruh penduduk kampung kecil itu memiliki pertalian darah.

Sementara bapaknya Ananda, pak Waldiono, seorang perantau yang berasal dari Berebes. Kota perbatasan antara Jawa barat dan Jawa tengah yang gersang. Daerah pesisir pantai yang panas dan berdebu. Rumah tempat tinggalnya hanya berjarak sepuluh tonggak dari tugu perbatasan. Istilah kata, ia bisa kencing di Jawa barat dan cebok di Jawa tengah. Seperti kebanyakan para perantau dari Jawa, pak Waldiono merupakan pekerja ulet, tak pernah mengeluh dan selalu santun. Ia ayah yang sangat sabar dan penyayang. Ananda sangat membanggakan ayahnya, meski ia tidak pernah suka dengan logat bicaranya yang beraksen jawa kental dan medok.

Seperti kebanyakan para penduduk di kampung kecil itu, keluarga Ananda juga menggantungkan hidupnya dari perkebunan bunga milik pak Kuswanda Natakusuma. Mereka dipekerjakan sebagai buruh, menyirami bunga, menyemai, menyetek, membuat media baru, mengolah pupuk sampai mengemas bunga-bunga yang siap dipasarkan. Jika ada waktu sisa, baru mereka menyempatkan diri menggarap tanahnya yang tidak seberapa luas, menanam jagung manis, talas, singkong atau ubi jalar.
READ MORE - PIANIS

Jumat, 06 April 2012

KETIKA MASJID BERGOLAK

Seusai shalat Maghrib, hampir seluruh para ahli Masjid tidak pulang. Mereka semua duduk melingkar di sudut mesjid, menunggu waktu isya tiba sambil membahas konflik yang belakangan ini kian memanas. Para laki-laki itu akan merembukan solusi bijak yang harus segera diambil. Karena menurut mereka semua, hal ini tidak boleh diabaikan lagi. Sudah cukup lama laki-laki itu melukai perasaan warga dan mengobrak-abrik seluruh tatanan Masjid.

Abah haji Sulhi, salah satu sesepuh panutan di kampung itu, duduk menyandar di tiang mesjid yang besar, sambil membolak-balik sebuah kitab kuning di tangannya. Sementara yang lainnya menunggu seraya membicarakan tentang prilaku Alatas, lelaki setengah baya yang belakangan ini telah menjadi onak di kampung Kahuripan itu. Wajah-wajah yang ada di sana penuh dengan gelora kemarahan. Saeful, pemuda soleh, santri kesayangan abah haji Sulhi terduduk lesu di sudut. Pikirannya diliputi berbagai dilemma. Dia sadar betul, keputusan masjid akan membuat ibunya menangis. Tadi sebelum maghrib, abah haji Sulhi berulang-ulang membesarkan hatinya. “Ada hal yang lebih penting dari keluarga, kepentingan umat selalu menjadi pringkat yang utama,” katanya seraya menepuk bahu Saeful.
Mendengar ucapan abah haji Sulhi itu, Saeful serasa ingin menangis melolong-lolong menyesali nasib ibunya sendiri. Mengapa ibunya harus terperangkap cinta lelaki gila itu? Sehingga dia harus ikut di barisan masyarakat dan melukai hatinya. Dia membayangkan raut wajah ibunya yang belakangan ini tampak tirus dan tertekan. Tak terasa air matanya menetes.

Di dapur kecil mesjid yang terletak di samping belakang masjid, mang Sakib penjaga masjid, sibuk membuat bergelas-gelas kopi hitam yang ditata di atas baki besar. Lalu membawanya dengan repot ke dalam masjid.
“Kopi..Kopi…Kopi….,” kata mang Sakib, seraya membagikan gelas-gelas kopi itu sambil merunduk-runduk.
“Kopi apa ini Sakib?” tanya abah haji Sulhi seraya meletakan kitab kuning di sampingnya.
“Kopi Lampung itu bah, enak. Sanget.”
Abah haji Sulhi meniup-niup kopi panas itu lalu menyeripit sedikit. “Sedap juga kopinya,” katanya. “Siapa yang sidekah kopi enak ini?”
“Marwan bah, dia baru pulang narik dari Lampung.”
Abah haji Sulhi terkesiap kaget, tak biasanya Marwan menjejakkan kakinya di Masjid. Lalu ia mencari wajah Marwan dan tersenyum. “Alhamdulillah, Marwan sudah bisa sidekah,” katanya
.
Marwan, lelaki gempal berkulit hitam itu tersipu malu. Dia tahu abah haji Sulhi tengah menyentilnya, karena selama ini ia tak pernah perduli pada kegiatan mesjid. Propesinya sebagai supir truk, tak memungkinkan dia untuk bisa shalat berjamaah di masjid setiap saat. Disamping itu Marwan juga bukan pria yang taat beragama. Sembahyangnya saja masih seperti jaring net, rata bolongnya. Puasanya tidak pernah genap. Bahkan kadang-kadang kalau penat di perjalanan, suka mampir di warung remang-remang dan mencicipi kehangatan penjaja warung yang bergincu tebal. Sudah bukan rahasia umum lagi, semua orang di kampung tahu prilaku nakal Marwan. Bahkan istrinya sendiri.
Abah haji Sulhi menebarkan pandangannya sesaat ke sekeliling. Melihat wajah-wajah jamaah yang duduk melingkar padat. Sudut masjid itu tampak penuh. Abah haji Sulhi berdehem seraya tersenyum. “Kalau saja suasana masjid penuh seperti ini terus setiap hari, pasti sangat indah. Jangan cuma ramai disaat ada konflik saja dong. Kalau begini ustad Sadeli pasti senang karena banyak temannya.”

Ustad Sadeli yang namanya sempat disinggung abah haji Sulhi hanya tersenyum, sementara para pemuda yang merasa tersindir saling berbisik sambil tersipu malu. Mereka para pemuda yang suka nongkrong di pos ronda, tak pernah mengabaikan seruan azan dan lebih memilih bergenjrang-genjreng dengan gitar bututnya.
“Tapi walaupun masjid cuma penuh ketika ada konflik saja, abah tetap senang kok. Setidaknya hati kalian masih terpanggil untuk berjihad memurnikan ajaran kangjeng nabi Muhammad yang Agung. Setidaknya kita masih punya cinta pada Allah dan agamanya.”
Dua orang ibu-ibu datang sambil membawa dua nampan besar singkong rebus yang masih mengepul. Lalu menyodorkannya ketengah-tengah para jamaah.
“Alhamdulillah, rizki dari Allah ini,” ujar abah haji Sulhi sumringah.
“Kami sudah tahu kalau malam ini ada rapat di masjid,” salah satu dari wanita itu berkata. “Jadi kami berinisiatif untuk membuat makanan alakadarnya.”
“Terima kasih banyak bu.”
“Sama-sama bah haji,” lalu kedua wanita itu meninggalkan masjid setelah mengucapkan salam.
“Terus bagaimana hasil rapat di kecamatan tadi siang?” Abah haji Sulhi mulai membuka inti permasalahannya.
“Wah seru bah. Pokoknya si Alatas gila itu dicecar abis.”
“Pak camat juga tidak mampu berbuat banyak.”
“Lagi pula apa wewenangnya pak camat mengeluarkan surat ijin pendirian mesjid. Masjid baru itu bisa berdiri jika memenuhi koridor sari’at Islam, bukan karena ijin pak camat. Misalnya di sebuah pemukiman baru, atau di sebuah desa yang penduduknya kian padat, hingga mesjid yang lama sudah tidak mungkin menampung jamaah lagi, itupun letaknya harus berjauhan. Atau perkampungan yang dipotong sungai besar, jalan raya, dan perkebunan luas. Bukan mendirikan mesjid di kampung yang sudah memiliki mesjid, ini hanya akan menimbulkan perpecahan. Di kampung kita ini para pengukuh mesjidnya saja tidak lebih dari dua puluh orang.”
“Kyai Khatib ngamuk bah. Dia nunjuk-nunjuk muka si Alatas, marah.”
Para jamaah seketika gaduh menceritakan kejadian tadi siang dengan berapi-api.
“Ternyata tanda tangan persetujuan yang ditunjukan si Alatas itu palsu semua. Tak ada satupun para kyai yang mengaku membubuhkan tanda tangan di kertas itu.”
“Jadi dia memalsukan tanda tangan orang? Berani sekali. Tanda tangan para kyai lagi,” abah haji Sulhi menggeleng-gelengkan kepalanya terheran-heran.
“Begitulah si Alatas.”
“Bisa dituntut itu bah. Pasalnya ada, pemalsuan tanda tangan. Kita seret aja dia ke pengadilan,” kata salah satu Jamaah berapi-api.
“Jangan berpikir terlalu jauh. Kasihan keluarganya.”
Saepul yang sedari tadi hanya terdiam, semakin menundukan kepalanya.
“Inilah jawabannya, mengapa selama ini abah selalu memilih masbuk setiap kali Alatas jadi imam.” Kata abah haji Sulhi, mengingatkan jamaah pada sebuah sikap yang telah dia ambil belakangan ini. “Mengapa saat itu abah tidak mau menjelaskan pada kalian semua? Karena abah tidak mau dianggap mempengaruhi kalian semua. Nanti dikiranya abah sirik sama bacaan Al Qur’an Alatas yang fasih. Kan tidak enak. Abah hanya berharap suatu saat nanti kalian menyadarinya sendiri.”
“Sebetulnya kamipun sudah menyadarinya bah. Tapi kami tidak tahu harus berbuat apa. Dia selalu nyerobot jadi imam sebelum minta persetujuan.”
“Bahkan sebelum jamaah datang, dia sudah duduk di dekat mimbar.” Yang lain menimpali.
“Inilah pelajaran buat kita semua. Kita harus mulai belajar peka menilai orang lain. Jangan sampai tertipu oleh orang yang mengaku santri hanya karena mampu menghapal bacaan-bacaan Al Qur’an saja. Ada banyak orang yang shalat tapi tidak memahami makna shalat itu sendiri. Ada banyak orang yang bisa membaca Al Qur’an dengan pasih, tapi tidak tahu pada inti sari Al Qur’an itu sendiri. Jadi pada dasarnya mereka hanya bisa membaca, tanpa mempelajari kandungannya dan menerapkannya dalam menjalankan hidup sehari-hari.”
Semua jamaah terdiam mendengarkan wejangan abah haji Sulhi.
“Menjadi imam shalat di masjid itu bukan karier. Jadi tak perlu berambisi.” Kata abah haji Sulhi. “Jadi imam itu merupakan panggilan jiwa. Yang mendaulatnya adalah kepercayaan para makmum. Bagaimana bisa jadi imam kalau tidak ada makmum yang menginginkannya. Ibarat sopir, si Alatas itu cuma sopir yang hanya baru bisa menginjak gas, tanpa memahami rambu-rambu lalu lintasnya. Bagaimana kita bisa menitipkan nyawa kita pada sopir ugal-ugalan seperti itu. Begitupun dengan shalat, bagaimana kita bisa meyakinkan diri kita, bahwa shalat yang kita lakukan sah, jika imamnya saja ria.”
“Sekarang tindakan apa yang akan kita lakukan untuk si Alatas?” Salah satu jamaah tampak tak sabar.
“Ya abah haji, kita harus melakukan sesuatu. Orang itu keji, dia telah memecah belah umat.”
Abah haji Sulhi tercenung sesaat. Lalu bertanya. “Bagaimana hasil rapat di kecamatan tadi pagi?”
“Sama seperti pemikiran bah haji, semua para ulama menolak berdirinya mesjid baru itu, karena memang tidak diperbolehkan ada dua mesjid dalam satu kampung.”
“Kalau saja tadi pagi abah tidak kedatangan tamu, pasti abah ikut menghadiri rapat itu.” Ujar abah haji Sulhi penuh sesal. “Apa kyai Khatib menjelaskan mengapa tidak boleh ada dua mesjid dalam satu kampung?”
Kyai Khatib adalah salah satu ulama besar yang paling dihargai di kota itu. Bukan hanya karena pengetahuan ilmu agamanya saja yang mumpuni, tapi ia terkenal dengan kebijaksanaannya serta kesahajaannya. Dia kyai besar yang menguasai berbagai kitab kuning.
“Karena akan membubarkan shalat Jum’at kita katanya.” Ujar salah seorang jamaah.
Abah haji Sulhi menghela nafas berat. “Bahasa kasarnya seperti itu, tapi arti pemahamannya perlu uraian yang cukup panjang. Supaya kalian semua mengerti, mengapa tidak diperbolehkan berdiri dua masjid dalam satu kampung. Kecuali mushala-mushala kecil untuk memudahkan warga dilingkungan terdekatnya untuk berjamaah shalat lima waktu.”
“Tolong jelaskan lebih rinci abah haji, supaya kami semua mengerti.”
“Begini.” Kata abah haji Sulhi. Lalu ia berpikir sesaat mencari kata dari mana dulu dia harus memulai. “Masjid itu rumah Allah. Dalam arti kata masjid itu rumah seluruh umat. Tidak hanya tempat shalat, tetapi masjid merupakan tempat pusat segala kegiatan umat. Di masjid inilah kita bisa merembukan berbagai masalah, asal bukan gosip, catat itu.”
Para jamaah tersenyum.
“Emangnya infotaitment bah haji.” Salah satu pemuda nyeletuk.
“Lain, nyang biasa nonton gosip. Kaya ibu-ibu aja loh.”
Semua orang tertawa.
“Teruskan bah haji.”
“Sudah belum tertawanya?” Tanya abah haji Sulhi sambil menahan senyum, sabar.
“Sudah bah. Lanjut.”

Abah haji Sulhi memperbaiki duduk silanya. “Baiklah, abah teruskan sekarang.” Katanya. “Sekarang kita akan membahas, mengapa para laki-laki diwajibkan shalat Jum’at di masjid. Bahkan ada sebuah keterangan mengatakan, apabila seorang muslim tidak melaksanakan shalat Jum’at selama tiga kali berturut-turut maka dianggap dia seorang munafik. Sebegitu wajibnya shalat Jum’at bagi para laki-laki. Dan mengapa hanya para laki-laki? Mengapa para perempuan tidak diwajibkan shalat Jum,at? Nah inilah yang akan kita uraikan.”
Semua mata para jamaah menyatu pada abah haji Sulhi, mendengarkan wejangannya dengan seksama.
“Di dalam Al qur’an, Allah telah mengatur tatanan kehidupan manusia dengan sempurna. Semuanya memiliki hak kewajiban sesuai dengan kodrat lahiriahnya masing-masing. Hanya pendapat manusialah yang kemudian mengacau balau kannya. Manusia memang kadang mencari pembenaran sendiri, untuk mengabsahkan kekeliruannya. Kaum perempuan tidak diwajibkan, sekaligus tidak diharamkan shalat jum’at dan mencari nafkah. Kenapa begitu? Karena perempuan memiliki tanggung jawab yang amat berat di rumah. Pertama, ia bertanggung jawab menjaga kehormatan keluarga. Mengurus anak dan mendidik anak. Bayangkan, maksimal dua tahun sekali para wanita akan hamil dan melahirkan. Dan itu akan terus berlangsung selama kondisi si istri subur dan suaminya perkasa. Hamil itu tidak gampang, berat dan tidak nyaman. Ditambah lagi harus sambil mengurus anak-anaknya yang lain. Kemudian melahirkan. Untuk memulihkan kesehatan setelah melahirkan dibutuhkan waktu yang lama. Disamping itu si ibu juga harus mengurus bayinya, menyusuinya dan juga memperhatikan anak-anaknya yang lain. Makannya, pakaiannya, kesehatannya pendidikannya. . Dipikir-pikir tugas para wanita itu tidak ada habis-habisnya. Siang malam,tidak ada kata istirahat. Karena itulah kaum wanita tidak diwajibkan mencari nafkah dan mengurusi urusan di luar rumah. Bahkan pada dasarnya wanita itu dilarang keluar rumah. Shalatnya saja lebih afdol di dalam kamarnya sendiri, dibanding berjamaah di masjid. Makanya kaum perempuan tidak diwajibkan shalat jum’at. Kewajiban utama kaum wanita adalah mengurusi rumah, mengasuh serta mendidik anak-anak di rumah. Meski begitu para laki-laki tidak boleh sombong dan mengecilkan peranan istri. Apalagi melecehkan istri karena tidak bisa membantu mencari nafkah.”
“Tapi bah, para lelaki juga mencari nafkah tidak gampang” Seorang jamaah menyela.
“Memang. Tapi itukan tanggung jawab laki-laki. Kalau laki-laki tidak mau mencari nafkah, terus tugas apa yang akan kalian pikul? Mau melahirkan dan mengurus anak di rumah?”
Para jamaah tersenyum sambil bergidig.
“Jadi keterlaluan sekali kalau ada laki-laki yang menggantungkan hidupnya pada perempuan. Menyuruh istrinya mencari nafkah sekaligus mengurus rumah, sementara dianya sendiri berleha-leha. Itu namanya laki-laki ahli neraka.”
“Nah seperti itulah kelakuan si Alatas.” Salah satu jamaah nyeletuk.
“Wah kalau dia sih lebih parah dari itu. Tidak hanya dikasih makan perempuan, tapi juga makanin hak yatim.”
Abah haji Sulhi mendehem, memberi isyarat pada jamaah untuk tidak meneruskan pergunjingan tentang Alatas.
“Bah haji, perasaan kita tadi lagi membahas tentang konflik pembangunan masjid baru. Kok larinya jadi ngomongin perempuan?” Salah satu jamaah menggugat.
Abah haji Sulhi tersenyum. “Memang. Tapi itu termasuk sinkronisasinya. Katanya kalian mau tahu mengapa dalam satu kampung tidak boleh ada dua masjid. Mengapa hanya laki-laki yang diwajibkan salat Jum’at? Begitu kan?”
“Tapi saya lebih suka membahas intinya.”
“Jangan begitu dong.” Ustad Sadeli menengahi. “Kita semua harus menarik hikmah dari peristiwa ini. Apa kalian tidak mau menambah ilmu?”
“Ya betul.. Betul itu. Lanjut bah haji.” Seorang jamaah menengahi dengan penuh semangat.
“Begini..” Ujar abah haji Sulhi setelah menyeripit kopi hitamnya. “Mengapa hanya kaum laki-
READ MORE - KETIKA MASJID BERGOLAK
 

Puska Tanjung Blog © 2012 | designed by Me